delapan penjuru mata angin
titipkan ruas warna nafas
diam; duri-duri mengusik
mengapa bunga
mengapa berduri
mengapa ranting
tidak batu
membatu diam tak menuntut
Maknai;
delapan penjuru mata angin
manusia pejalan lebih peka - dari
segala.
Indramayu, 7 Agustus 2008



0 komentar:
Posting Komentar