Pukul 22.11 PM, 29 Desember 2011.
Halo semuanya, apa kabar? Semoga saja masih dan selalu dalam lindungan Allah SWT, amin. Malam ini aku merasakan sesuatu hal yang tidak menyenangkan perasaanku. Membuat jengkel dan gak nyaman. Sebenarnya aku sudah sering mengalami hal seperti ini tetapi sesuatu yang seperti ini yang sangat aku tak skai. Aku paling sangat tidak suka terhadap seseorang yang tidak menghargai dirinya sendiri dengan mengecewakan orang lain. Mengabaikan, menyepelekan kesepakatan yang sudah disepakati bersama. Aku membenci orang yang tidak setia terhadap perkataannya. Ya begitulah. Seharusnya mala mini kami ada latihan teater tapi karena ada seorang actor yang tidak dating bahkan seringkali dia gak dating tanpa alsan apapun seperti menyepelekan. Karena tingkahlakunya itulah mala mini gagal latihan padahal sesuai jadwal dua hari lagi kami pentas. Ehm… memuakkan sekali. Tapi ya sudahlah dimaklumi aja mudah-mudahan orang yang kelakuannya seperti itu akan diberi pencerahan dan dia sadar betapa pentingnya menyelesaikan sesuatu hal yang sudah disepakati bersama dan terutama telah dia sepakati sendiri.
Oh, iya. Selain perasaan jengkel itu, malam mini aku memiliki perasaan lain. Perasaan cengeng… hehehe. Ya, perasaan itu muncul ketika tadi saat aku keluar rumah aku melihat bulan sabit yang menggantung di angkasa. Oleh karena itu aku rasanya pengen membuat sebuah cerita yang bertemakan cinta kali ini. Boleh ya? Okelah kalau begitu akan aku mulai saja menulis ceritanya. Cekidot…
CINTA DAN SEMESTA
Rino terlihat gelisah di ruang tamu kontrakannya. Dia mondar-mandir keluar masuk rumah. Sesekali dia menghempaskan tubuhnya di sofa yang terbuat dari busa empuk itu. Dia seperti memikirkan sesuatu yang membuatnya begitu gelisah. Sebatang rokok putih yang sedari tadi tercampak di asbak, dihisapnya kembali dalam-dalam lalu menghembuskannya ke langit-langit ruang tamu. Desahannya seakan membaur bersama kegelisahan yang dia rasakan.
Cuaca di luar nampak mulai remang, menandakan bahwa matahari telah menciptakan senja dan senja akan segera tergeser oleh malam. Satu jam lebih Rino gelisah mondar-mandir di rangan itu. Jam tangan yang melingkar di lengannya tak luput dari tatapan matanya yang memancarkan cahaya lesu.
“Ah, sudah jam tujuh malam. Jadi gak ya, tapi aku bingung mau mengatakannya”
Suara dering hp dari kantong Rino memecah suasana.
“Aduh, dia…, angkat gak ya, aku harus ngomong apa?”
Agaknya Rino terlalu lama berpikir sampai-sampai dering itu berhenti, tanda panggilan terputus.
“Sial…, kenapa gak kuangkat… dia pasti marah”
Hp Rino kembali berdering. Lagu dealova yang menjadi nada dering hp Rino seakan membawa suasana saat itu menjadi lebih mengelam. Rino segera mengangkatnya.
“Halo, iya maaf sayang tadi aku sedang ke kamar mandi. Iya… iya jadi kok, he’eh bisa-bisa. Iya ditempat biasa aku jemput kamu ya. Apa, gak usah di jemput, emang sekarang kamu di mana, apa?”
“Aku di depanmu sayang”
Rino terkejut mendengar suara yang muncul tiba-tiba dihadapannya. Ternyata seseorang yang menelponnya berada di depan pintu kontrakannya.
“Sudah matiin Hpnya”
“Loh, kamu kok sudah di sini Nadin sayang, sama sapa kamu ke sini?”
“Ah, gimana sich sayang… ditunggu gak datang-datang!”
“Maaf…”
“Maaf-maaf, aku sudah nunggu di kost dari jam lima tadi tau. Katanya mau jalan sore sekalian makan malam, huh… nyebelin”.
“Maaf ya sayang… mau berangkat sekarang?”
“Nggak, tahun depan!”
“Hem… marah… ya udah ayo berangkat pacarku Nadin yang cantik…”
“Gombal…”
Tanpa berpikir panjang Rino segera menghidupkan vespanya. Di perjalanan Rino masih terlihat gelisah. Dia sebenarnya ingin mengatakan sesuatu pada Nadin. Atasannya di kantor mempromosikan dia untuk memimpin cabang perusahaan di kota lain.
Hubungan mereka bisa dibilang sedang hangat-hangatnya. Mereka memang belum lama menjalin hubungan kira-kira baru tujuh bulan. Setahun yang lalu Rino yang sedang ditugaskan oleh kantornya untuk mempresentasikan produk-produk perusahaan tempatnya bekerja yang bergerak dalam bidang distributor peralatan kantor di sebuah universitas swasta di Ibu Kota ia bertemu dengan Nadin.
“Kita mau makan di mana Sayang?” Tanya Nadin menghenyatkan Rino.
“Eh apa sayang?” jawab Rino terkejut.
“Kamu kenapa sich sayang, kok keliatan aneh dari tadi, kayak orang kebingungan?”
“Enggak sayang, nggak kenapa-napa kok. Tadi Tanya apa?”
“Ehm…, kita mau makan di mana?”
“Gimana kalau kita makannya cari tempat dan suasananya yang enak ya?” Rino mencoba memberi usulan agar dia bisa punya kesempatan dan kondisi yang pas untuk bicara dengan Nadin.
“Boleh, aku ikut aja pokonya”
Rino melajukan vespanya lebih cepat lagi. Cuaca malam itu sangat cerah. Meskipun lampu kota beramai-ramai mengerahkan tenaga terangnya, tetap tidak mampu mengalahan bintang yang berkerlipan serta bulan sabit yang seakan membentuk alis bidadari menampakkan wujudnya di angkasa. Kelokan demi kelokan, lampu merah demi lampu merah telah dilalui Rino dan akhirnya sampailah mereka ditempat yang dituju. Di sana ada sebuah tempat makan yang sangat indah. Gazebo-gazebo tempat makan yang didirikan di atas danau buatan dengan airnya yang jernih. Terlihat bunga teratai mengelompok dibeberapa tempat dan sepertinya sengaja diletakkan dengan posisi seperti itu sehingga teratai itu semakin mempercantik tempat itu. Begitu pula cahaya bintang yang berkelip memantul di danau itu. Kesenduan cahaya bulan yang memantul di air pun seakan bagai sinar lilin yang menghangatkan.
“Ayo, turun Nadin”
“Kita makan di sini sayang?”
“Iya, kenapa kau tidak suka tempat ini?”
“Wah, indah banget sayang… kok baru kali ini kamu ajak aku ke sini?”
“Ya, aku juga baru tahu kok sayang, tadi ada teman kantor yang ngasih tahu ke aku”.
Mereka berjalan mendekati gazebo-gazebo itu. Seorang pelayan menyambut mereka dan membawanya ke salah satu gazebo. Lampion-lampion di susun sepanjang jalan menuju gazebo dan di setiap ruang gazebo terdapat beberapa lilin-lilin kecil berwarna merah dinyalakan untuk menciptakan pencahayaan yang redup sehingga orang yang duduk di sana dapat menyaksikan pemandangan di langit tanpa ada gangguan pencahayaan yang berlebih.
“Silahkan mas Rino… saya tinggal dulu” Pelayan itu mempersilahkan.
“Ya, terima kasih mas”.
“Kok, pelayan itu kenal kamu mas?”
“Hehe… gak tahu Nadin, barangkali saja dia pernah lihat mas di TV…”
“Ehm… sok ngartis…” sedak manja Nadin sambil mencubit lengan Rino.
“Aduh… sakit sayang…”
Mereka berdua memang terlihat sangat serasi. Terpancar dari aura mereka ketika sedang bersama, terlihat bahwa ada kekuatan kasih sayang antara mereka. Melihat canda mereka dan balasan senyum antara mereka seakan-akan mereka adalah pasangan yang tak dapat dipisahkan sedetikpun. Ada kekuatan cinta dipertautan hati mereka.
“Mas Rino…”
“Iya, kenapa sayang” jawab Rino sambil meraih jemari Nadin dan menenggelamkan dalam genggamannya.
“Aku mau mas disampingku terus…”
Rino menghela nafas panjang. Sebenarnya dia pun demikian sama seperti kemauan Nadin tapi pekerjaan menuntutnya harus pergi.
“Kenapa mas diam, gak mau sama Nadin terus?”
“Eh, bukan begitu. Mas seneng banget kalo bisa sama Nadin terus, tapi…?”
“Tapi kenapa mas…?” Tanya Nadin dengan raut muka sedikit berubah.
Rino kembali menghela nafas lebih panjang kali ini.
“Nadin, mas mau ngomong sesuatu…”
“Apa, mas?” raut muka Nadin menampakkan progress perubahannya.
Rino kali ini menggenggam kedua tangan nadin sangat erat.
“Nadin, mas besok harus pergi ke luar kota untuk waktu yang cukup lama. Mas dipromosikan di perusahaan bos yang ada di Surabaya”.
Nadin menepiskan genggaman tangan Rino namun Rino menahannya.
“Nadin dengarkan dulu, mas belum selesai bicaranya”
Air mata Nadin menetes.
“Maafkan mas ya sayang…” pinta Rino sambil mengusap air mata yang mengaliri pipi Nadin.
Nadin terlihat sangat sedih. Tanpa sepatah kata, Nadin menepiskan tangan Rino dan berlari ke jalanan meninggalkan Rino. Rino mengejar Nadin..
“Mas Rino. Ini makanannya sudah siap, gimana?” tanya pelayan yang datang membawa pesanan yang sudah siap.
“Taruh saja di meja mas” jawab Rino sekenanya.
Nadin terus berlari ke jalanan, Rino berlari mengejarnya. Ternyata Nadin lari begitu cepat dan hilang di persimpangan jalan. Rino kehilangan jejak Nadin, kemudian dia bertanya ke seorang perempuan penjaga warung rokok yang kebetulan mangkal di persimpangan jalan itu.
“Bu, tadi lihat cewek lari ke arah sini nggak bu, larinya ke mana ya bu arahnya?”
“Aduh, tidak mas. Memang tadi sudah janjian belum?”
“Oh ya, terima kasih bu”
“Ah, sial emang saya sedang nyari perek” ketus Rino dalam hati.
Rino kehilangan jejak dan memutuskan kembali ke warung makan untuk mengambil vespanya juga membayar makanan yang sudah dipesannya.
“Mas, makanannya saya bungkuskan saja ya?”
“Ah, nggak usah mas”
Rino menyusuri jalanan, matanya menyapu bersih setiap sisi jalan siapa tahu dia menemukan Nadin. Rino sangat khawatir kalau terjadi apa-apa sama Nadin karena Nadin belum tahu benar lokasi tersebut. Hp Nadin juga tidak bisa dihubungi. Rino terus menyusuri jalan, masuk lorong-lorong gang yang kemungkinan di lalui oleh Nadin tapi hasilnya juga nihil. Akhirnya dia putuskan untuk mencari ke kostnya, siapa tahu di sudah pulang. Sesampainya di kost Rino memberanikan diri mengetuk pintu pagar kost karena memang saat itu sudah bukan waktunya bertamu.
“Ah, sial. Ke mana sih ini orang-orangnya kok gak ada yang buka”.
Rino kembali mencari Nadin. Kali ini dia mencari Nadin ke hotel dan penginapan di daerah yang kemungkinan dilalui. Nadin juga tidak ditemukan. Tanpa putus asa, Rino kemudian menuju terminal bus, barangkali saja Nadin nekat pulang ke Banten, rumah orang tuanya. Sampai di terminal bus, Rino masuk ke bus-bus malam tujuan Banten atau yang searah ke kota tersebut, yang sedang parkir menunggu penumpang. Siapa tahu ada Nadin di dalamnya tetapi usaha Rino pun nihil hasilnya. Nadin tidak juga di temukan.
Keesokan paginya, Rino sudah cek barang di bandara, sebentar lagi pesawat akan membawanya terbang ke Surabaya. Nadin belum dapat dihubungi dan tidak tahu di mana keberadaannya. Rino bingung, dia harus memilih karir pekerjaan atau Nadin. Sebenarnya semalam dia ingin bicara bahwa kepergiannya ke Surabaya untuk urusan pekerjaan adalah juga menjadi bagian dalam perencanaan untuk menyiapkan masa depan ekonomi yang nantinya juga akan digunakan untuk hidup bersama Nadin karena Rino juga sudah serius ingin menjadikan Nadin istri dan ibu dari anak-anak mereka. Penerbangan sudah siap dan seluruh penumpang diperintahkan untuk segera menuju ke pesawat. Rino masuk ke pesawat. Di dalam hatinya dia berdoa, semoga Nadin bisa mengerti bahwa kepergiaanya bukan hanya untuk masa depan sepihak saja, bukan karena keegoisan semata tetapi masa depan bersama untuk jenjang yang lebih lanjut. Pernikahan.
Delapan bulan kemudian…
Rino masih santai di rumah dinasnya, dia dapat libur satu minggu karena target pekerjaannya sudah dapat diselesaikan lebih cepat. Hp yang diletakkan di meja kaca berbunyi, getaranya menimbulkan suara berisik. Dia malas mengangkatnya. Biasanya yang menelpon adalah teman kerjanya yang juga sedang libur ngajak kumpul, pesta kecil-kecilan menghilangkan stress. Hp terus berdering berkali-kali.
“Ah, siapa sih. Tahu gak diangkat ya sudah jangan telpon lagi!” celoteh Rino kesal namun tetap saja beranjak malas menghampiri handponnya.
“Ah, gak ada namanya lagi” Rino meletakkan hpnya kembali, urung mengangkatnya.
Hp kembali berbunyi, barangkali sudah yang ke tujuh kalinya.
“Halo… siapa, ada perlu apa, penting tidak?” tanya Rino dengan nada kesal.
“Rino ya…?” terdengar suara perempuan. Suaranya terdengar lemah namn agak berat.
Rino seperti pernah mendengar suara perempuan itu. Dia terdiam sejenak, mencoba mengingat suara siapa tersebut.
“Nadin….?” tanya Rino begitu bersemangat sampai setengah berjingkrak.
“Iya, Rino… aku Nadin”
“Nadin…”
“Rino, maaf aku hanya mau mengatakan sesuatu”.
“Apa sayang… kamu di mana sekarang, kita ketemuan ya?”
“Nggak usah mas. Aku mau bilang lewat telpon saja. Mas anak kita baru saja lahir mas”
“Apa Nadin?”
“Tut… Tut… Tut…” tiba-tiba telpon terputus.
Rino benar-benar terkejut mendengar keterangan Nadin. Antara percaya dan tidak dengan apa yang baru saja didengarnya. Nadin baru saja melahirkan anak mereka. Perasaan Rino berkecamuk. Rino mencoba menghubungi kembali Nadin tetapi selalu terdengar nada sedang sibuk dan beberapa saat kemudian hp Rino kembali berbunyi kali ini pesan singkat masuk.
Mas, ak msh tggal di Jkt n kl ms mw jenguk anak kt, mas tmwi Yeni ntr byr dy yg antr ms ke kntrkan bruku. Mksh Mas…
Tanpa pikir panjang Rino segera berkemas-kemas. Rino segera memesan tiket pesawat untuk keberangkatan ke Jakarta hari itu juga. Dia harus cepat ketemu dengan Nadin dan memperjelas semua yang terjadi. Sesampainya di Jakarta Rino langsung naik taxi untuk jemput Yeni di kostnya. Untung saja Yeni masih tinggal di Kost lama. Setelah itu mereka segera menuju ke kontrakan Nadin yang sekarang.
Keadaan jalan ibu kota yang macet membuat semakin tidak sabar Rino untuk segera sampai dan bertemu dengan Nadin. Akhirnya lepas juga taxi yang ditumpangi Rino dan Yeni dari kemacetan.
“Gang depan belok kiri ya pak” Yeni menunjukkan arah pada sopir taxi.
“Masih jauh kah Yen?” tanya Rino seperti tak sabar lagi.
“Sebentar lagi kok. Gang itu belok kiri dan ada perempatan kita ambil kanan, sepuluh meteran lagi sampai” terang Yeni.
“Oh, ya… ya…”
Sopir taxi membelokkan mobilnya masuk kearah gang yang ditunjuk Yeni tapi ketika hendak belok, dari arah berlawanan terdengar sirine ambulance.
“Ada ambulance melintas pak, kita mengalah aja dulu gak apa-apa. Kita jalan di belakangnya” saran Rino pada sopir taxi tersebut.
Ambulance tersebut ternyata juga belok di gang yang sama. Setelah ambulance tersebut belok, taxi itu melanjutkan jalan di belakangnya. Sampai di perempatan, ambulance memberi lampu sen kiri menunjukkan arah yang sama dengan tujuan Rino dan Yeni.
“Sepertinya ada yang sakit di kompleks sini, Yen?”
“Sepertinya begitu Rino. Mudah-mudahan cepat sembuh orang yang sedang sakit itu”
“Ya, amin. Semoga saja Yen”
Mobil ambulance berhenti.
“Mana rumahnya, Yen?” tanya Rino lagi, tak sabar.
“Itu, di depan mobil Ambulance itu berhenti. Pak kita berhenti di samping rumah berhentinya mobil ambulance ya, pak”
Taxi berjalan pelan-pelan melintasi mobil ambulance dan berhenti di rumah no 10 yang berpagar warna biru. Melihat warna biru terbesit wajah Nadin di benaknya. Ya, warna biru adalah warna kesukaan Nadin.
“Apa kita sudah sampai Yen?” Tanya Rino dengan nada tak sabar.
“Iya, kita sudah sampai, ayo turun”.
“Terima kasih ya pak” ucap Rino pada sopir taxi yang juga telah berjasa mengantarkannya untuk bertemu dengan Nadin. Taxi itu kemudian bergegas pergi begitu juga Rino dan Yeni tak kalah gesitnya melangkah menuju kontrakan Nadin. Yeni menekan bel rumah beberapa kali tapi belum juga ada orang yang keluar dari rumah itu.
“Mungkin kamu salah rumah Yen?” Rino coba bertanya sekaligus mencoba memastikan kebenarannya pada Yeni.
“Nggak, bener ini rumahnya” terang Yeni dengan yakin.
Kali ini giliran Rino yang menekan bel rumah. Belum juga telunjuknya menyentuh bel, seorang perempuan tua keluar dari rumah tersebut.
“Eh, mbak Yeni. Masuk mbak”
“Ya, makasih bu. Nadin ada bu?”
“Ada, baru saja pulang tadi pagi dari rumah sakit”
Rino semakin tidak sabar untuk segera masuk ke rumah dan ketemu sama Nadin. Mereka kemudian masuk ke rumah.
“Mbak Yeni langsung aja masuk kamar non Nadin, dia belum bisa jalan-jalan kondisinya masih lemah”
“Ya, bu…”
Yeni dan Rino segera menuju ke kamar Nadin.
“Ayo, Yen…” Rino semakin tak sabar.
“Eh, No… aku antar sampai pintu kamar ya, ntar kamu aja yang masuk”
“Kok, gitu?”
“Ah, udahlah aku ngerti kok”
“Baiklah. Udah ayo!”
Mereka menuju ke kamar Nadin. Yeni berhenti di muka pintu kamar. Rino langsung masuk ke kamar dan mendekati sosok perempuan yang sangat dikenalnya bahkan sangat dia cintainya. Nadin terlihat sedang tidur dan terdapat seorang bayi laki-laki yang juga tertidur pulas di ranjang bayi. Rino mendekati Nadin, menggenggam tangannya. Rino mendekatkan mukanya ke telinga Nadin.
“Nadin, sayang…” ucap rino lirih.
Perlahan Nadin membuka matanya, terbangun. Mata yang memancarkan kelelahan itu menatap tajam pada sosok lelaki di hadapannya. Mereka saling bertatapan. Butiran Kristal kasih sayang mereka mencair menjadi guliran air mata kebahagiaan. Mereka terhanyut dalam perasaan mereka. Hingga untuk beberapa saat mereka tak mampu berucap-ucap. Mereka berpelkan erat. Sangat erat. Yeni yang dari tadi menyaksikan dari pintu juga ikut terbawa suasana, ia juga tak sadar meneteskan air mata keharuan. Yeni tak kuasa melihatnya dan kemudian pergi meninggalkan mereka.
“Maafkan aku Nadin…”
“Aku juga, mas…”
“Aku pergi ke Surabaya karena aku punya rencana…” Nadin mencoba menyudahi penjelasan Rino dengan memegang pipi Rino.
“Sudahlah mas, Nadin tahu kok, Nadin mengerti” terang Nadin.
Mata Nadin memandang ke arah ke sosok bayi laki-laki yang tertidur pulas.
“Dia, mas… anak kita?”
“Dia anak kita Nadin?” tanya rino dengan perasaan yang berkecamuk antara senang dan kebingungan.
“Dia anak kita mas. Maaf aku gak terus terang sama mas”
“Maksudmu…?”
“Iya, mas. Waktu malam itu ketika mas bilang mau pergi ke Surabaya aku sangat terpukul. Sebenarnya malam itu juga aku mau bilang ke mas kalau aku sedang hamil anak kita. Tetapi belum sempat aku bilang, mas sudah ngomong mau pergi. Aku terpukul mas aku gak tahu perasaanku saat itu benar-benar bingung.
“Kenapa kamu nggak bilang terus terang Nadin?”
“Yam as, maaf. Aku sebenarnya setelah itu mau hubungi mas untuk bilang sebenarnya ke mas tapi setelah kupikir-pikir aku nggak mau merusak masa depan mas, karir mas. Akhirnya kuputuskan untuk tak menceritakan dulu sampai tiba waktunya yang tepat.
Mendengar penjelasan Nadin, Rino sangat merasa bersalah. Dia meraa telah membiarkan Nadin sendiri dalam masa kehamilannya.
“Maafkan mas saying telah membiarkan kamu menghadapi masalah sendiri”
“Sudahlah mas, semua sudah Nadin maafkan dan Nadin juga minta maaf mas sudah membuat mas khawatir selama ini”
Nadin menarik tangan Rino untuk memeluknya. Nadin juga merasakan kerinduan yang sangat besar. Mereka kembali hanyut dalam perasaan mereka. Rino mendekap sangat erat seakan tak mau lagi melepaskan pelukkannya.
Rino dan Nadin kini hidup bersama, mereka kemudian memutuskan menikah dan mengikrarkan janji pada semesta untuk selalu bersama selama-lamanya dan anak buah cinta mereka di beri nama Semesta. Mereka kini tinggal di Surabaya. Rino telah dipercaya menjadi manager di perusahaanya dan Nadin melanjutkan kembali studinya di Surabaya.
Waktu merambat selaksa embun yang mencair di dedaunan cemara. Perjuangan malam yang menciptakan embun di uji kembali oleh sang mentari. Malam tetap tak kenal lelah dia tetap menciptakan embun-embun. Perjuangan tidak aka nada habisnya walau penguji tetap ada bagai bayang yang selalu serta karena itulah keindahan perjuangan, ketika penguji tetap menyapa. Malam tetap saja akan menciptakan embun yang akan selalu mencair merambat pelan di dedaunan, dingin, sejuk dan indah selayaknya cinta yang akan selalu hadir dan bersemayam di tubuh pecinta juga selayaknya sang penyair yang setia pada bait-bait sajaknya dan membumbung tinggi di semesta.
Pukul 01.35 AM…
Ehm… maaf ku sudahi dulu ya… kerasa pegel… sebenere masih pengen nulis terus… tapi kayaknya leher dan pinggul kerasa pegel juga…
Okelah besok kita lanjutkan lagi…
Bye…. Bye….