Selasa, 03 Januari 2012

CATATAN WAKTU


Tanggal 3 Januari 2012.
Pukul 17.42 PM.        
Sore, semuanya…
            Senja di kotaku kali ini diguyur hujan, untung saja pekerjaanku sudah selesai. Ugh, sebenarnya aku pingin nulis sesuatu tapi entah kepalaku terasa pusing, padahal sudah tersedia the dan sebungkus rokok siap menemaniku dan juga suasana senja yang mendukung. Kepalaku terasa sakit, pusing. Rasanya sangat berat. Huh… maaf ya aku menunda sejenak wahai sesuatu yang berkehendak lahir menjadi kata-kata. Kuharap kau dapat tinggal diruang imajiku sampai kau kulahirkan ke tempat semestinya kau berada.

Maaf…

CATATAN WAKTU


Pukul 19.48 PM. 1 Januari 2012
Hay, semuanya… gimana kabar kalian semua… semoga selalu dalam lindungan-Nya. Amin.
Malam ini tidak ada yang special, kecuali nasi goreng petai buatanku sendiri, hehehe. Ya, barusan aku membuat makan malam dengan menu nasi goring petai dan campuran balok tempe. Wah rasanya sangat mak nyus deh… apa, kalian pengen tahu cara membuatnya? Ok, deh. Jadi cara membuat nasgor alaku adalah:
1.      Bumbu yang perlu disiapkan adalah, bawang merah, bawang putih, garam, penyedap rasa atau ak sebutnya micin terus jangan ketinggalan cabai rawit. Banyaknya bumbu-bumbu tersebut disesuaikan selera masing-masing ya. Terus yang pasti harus ada adalah petai satu tangga terus tempe. Oya nasinya jangan lupa, hehehe.
2.      Cara memasaknya adalah, bawang merah, bawang putih, cabai rawit, garam dan micin diuleg jadi satu. Selanjutnya petai dan tempe diiris kecil-kecil.
3.      Nyalakan kompor, pasang wajan dan tuangkan minyak secukupnya. Setelah minyak panas pertama-tama masukkan dulu tempe yang sudah diiris setelah agak matang masukkan lagi petainya dan bumbu yang sudah diuleg tadi. Langkah selanjutnya masukkan nasi dan aduk sampai rata sampai matang. Setelah matang siap untk dihidangkan.
4.      Selamat menikmati nasgor petai dan irisan balok tempe ala aku… hehehe…
Ya, begitu deh tadi aku masaknya.
Ok, malam ini aku pengen nulis sesuatu lagi dan barangkali saja aku mau nulis apa adanya, bebas sesuai dengan apa yang menggentayang di imajinasiku. Aku pengen nulis kalau nggak ada perubahan nantinya akan kuberi judul GUNTING. Makna dari judul terserah kalian semua menafsirkan saya tidak akan membatasi dan biarkan karya itu menjadi sesuatu yang berdiri sendiri. Saya mengutip  Pram “karya yang saya ciptakan saya anggap sebagai anak-anak saya, biarkan dia hidup dan mencari kehidupannya sendiri” begitu sih kurang lebihnya… hehehehe. Baik langsung saja ya, aku juga udah pengen berkunjung ke dunia imajinAtif itu. Sampai ketemu di sana. Bismillah….

GUNTING
            “Ayo kita bakar saja rumah itu!”
Teriak salah seorang warga yang bernama Barjo, lelaki yang bertumbuh pendek namun gempal. Dia yang menjadi komando puluhan orang menuju ke sebuah rumah yang terletak di bibir desa itu, rumah yang berada pada wilayah tapal batas antara dua desa.
“Ayo percepat langkah kalian, kita bakar rumah dan si keparat itu!” teriak Barjo suaranya sampai menerbangkan burung-burung gereja yang sedang tidur di pepohonan kelapa.
“Ayo, kita habisi si pembawa bencana itu” timpal salah seorang warga yang ikut dalam gerombolan.
Puluhan warga itu terlihat sangat murka terhadap seseorang yang dianggap pembawa sial di kampung itu.

***
Malam berada dalam posisi tengah-tengah, angin sepoi-sepoi menggesek dedaunan kopi coklat yang kebetulan tumbuh di halam rumah itu. Beberapa daun keringnya gugur dan terbang bebas menyatu dengan tanah yang ditumbuhi rumputan liar. Rumah yang berada di tapal batas itu terlihat remang karena pencahayaanya hanya dari lampu ublik. Bias cahayanya penuh ketakkuasaan menembus dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu. Di dalam rumah seorang lelaki bertubuh kurus kering dengan rambut panjang sebahu sedang mondar-mandir di dalam rumah. Sesekali dia terlihat seperti sedang bicara dengan seseorang namun tidak ada orang lain di rumah itu selain dia sendiri. Lelaki itu memang terlihat aneh karena selain berbicara sendiri dia kadang-kadang juga teriak keras-keras, tertawa kencang-kencang dan juga spontan dia menangis terisak-isak tetapi dari semua yang keluar dari racauan lelaki itu yang sering di dengar oleh warga sekitar atau orang yang kebetulan lewat di depan rumahnya adalah kata gunting. Entah apa maksud dari kata gunting yang diucapkan oleh lelaki tua aneh itu.

***
“Ayo percepat langkah kalian, jangan sampai si keparat gila itu kabur”
“Ayo kita bakar saja hidup-hidup”
“Ayo!!!”
“Mampus kau keparat”
“Pembawa sial”
            Rombongan penduduk sangat marah, mereka hanya mempunyai satu niatan yang sama yaitu membakar si keparat itu dan memusnahkan dia dari bumi ini. Tidak lama kemudian gerombolan penduduk itu sampai di rumah yang mereka tuju.
“Stop. Kita harus pastikan apakah si keparat itu ada di dalam rumah atau tidak sehingga kerja kita tidak sia-sia” perintah Barjo si komandan.
“Iye, bener pak Barjo. Ibaret kate peribahese pepateh, menyelem sambel kemasuken aer” timpal warga bernama Plentus itu penuh keyakinan, logatnya ala melayu-melayuan soalnya dulu dia pernah menjadi TKI di negeri Jiran. Mendengar apa yang keluar dari mulut pahlawan devisa itu seluruh warga tertawa terpingkal, terjungkal-jungkal sehingga suasana yang sedari tadi penuh ketegangan dan amarah kini berubah total berbalik arah. Seluruh warga tidak bisa menahan untuk tidak tertawa terkecuali Barjo yang tanduk amarahnya tetap menjulang tinggi di kepalanya.
“Sudah-sudah jangan tertawa nanti si keparat itu tahu kedatangan kita. Kamu juga si Plentus, sok-sokan pakai peribahasa segala. Salah tahu peribahasamu itu!”
Seluruh warga kembali diam dan mengunci mulutnya rapat-rapat, hanya Plentus yang masih memberi ruang di mulutnya, cengar-cengir malu tapi tetap tidak tahu dibagian mana yang salah dari peribahasa yang dia katakan.
“Ok, seluruh warga saya perintahkan untuk membagi kelompok dan mengintai dari dekat rumah si lelaki bertubuh kurus kering itu”
Barjo kembali memberikan perintah kepada seluruh warga dengan gaya ala komandan gerakan yang fenomenal menjadi sejarah suatu bangsa yang kini menjadi samar-samar kebenaran sejarah itu. Seluruh warga kemudian membagi kelompok mereka. Kebetulan mereka ada 25 orang. Mereka bagi menjadi empat kelompok yang masing-masing enam orang dan sisa satu. Sisa satu itu adalah si Plentus. Seluruh warga tidak ada yang mau menggabungkan ia di kelompoknya karena mereka takut ketika sedang serius mengintai, mereka akan dibuat tertawa terpingkal-pingkal karena olah si plentus. Plentus sadar bahwa tidak ada yang mau digabunginya tapi dia tetap bersikukuh untuk ikut andil dalam gerakan pembakaran si keparat itu. Dia pun tak ambil pusing ketika semuanya akan siap-siap mendekati rumah sasaran itu, si Plentus sudah maju duluan sambil menyuarakan slogan.
“Tegang terus pantang kendur!!!”
Kontan saja tanpa tawar menawar lagi, seluruh warga yang mendengar slogan Plentus langsung tertawa terpingkal-pingkal tak karuan sedangkan si Plentus tak peduli dia tetap maju. Lagian pula dia juga tidak sadar apa yang ditertawakan teman-temannya.

***
Lelaki kurus kering itu masih tetap seperti biasanya. Dia bicara sendiri dan kata-kata yang paling jelas keluar dari mulutnya adalah gunting. Dia tidak sadar kalau dia sedang di intai puluhan warga dan nyawanya terancam dibakar masa. Lelaki itu tetap asyik dengan dirinya. Terlihat lelaki itu berdiri di meja dan berlagak seperti Arya Dwipangga si penyair berdarah dalam cerita jawa itu. Mulutnya komat-kamit seperti sedang bersajak. Sinar matanya tajam menatap sekelilingnya. Tiba-tiba keluar kata dari mulutnya sangat jelas.
“Gunting!!!”
Kemudian lelaki itu turun mendekati tiang rumah yang terbuat dari kayu. Dia besujud dihadapan tiang rumah, gerakannya seperti sedang memberikan bunga merayu seorang wanita. Lagi-lagi diantara komat-kamit yang tak jelas, keluar kata gunting. Setelah itu dia menari-nari dengan sesekali menangis, tertawa, marah, diam dan terus berulang-ulang, tak lupa di sela-sela itu dia teriakkan kata gunting.

***
Para warga yang sedari tadi mengintai, tak segera membakar rumah lelaki itu bahkan si Barjo malah seakan terkesima dan menikmatai apa yang dipertunjukan oleh si lelaki kurus. Mereka semua seperti sedang menyaksikan sebuah pertunjukan yang mereka sendiri tidak pahami pertunjukan apa itu. Mungkin yang mereka pahami itu adalah pertunjukan baru di dunia seni. Selama mereka melihat pertunjukan seni, belum ada yang seperti dia lihat di hadapan mereka. Barjo sang komandan kemudian mengumpulkan kembali para warganya dan mengajak sedikit menjauh dari rumah lelaki kurus itu. Mereka membentuk formasi melingkar sepertinya mereka akan melaksanakan semacam diskusi darurat tapi si Barjo tidak akan mereshuffle pasukannya karena memang tidak ada pembagian jabatan dipasukan Barjo, kekuasaan dan kewenangan serta perintah sepenuhnya di tangan si Barjo.
“Baiklah saudara-saudara semua, setelah kita menyaksikan apa yang terjadi kira-kira langkah apa yang harus kita lakukan selanjutnya?” Barjo membuka diskusi dengan melempar pertanyaan kepada warga.
“Kaleu menuret saye…”
“Stop. Kamu tidak memiliki kewenangan untuk bicara duluan!!!” Barjo memotong pembicaraan si Plentos yang mencoba menyampaikan idenya.
“Semua boleh bicara duluan terkecuali si Plentus yang sok tahu itu”
Seluruh warga yang memiliki hak bicara duluan ternyata tidak ada yang berbicara. Mereka hanya terlihat kusak-kusuk seperti kebingungan tidak tahu mau bicara apa.
“Baik, saya perjelas permasalahannya lagi. Bukan maksud saya untuk membatalkan niat membakar dan memusnahkan si keparat sinting itu tapi menurut saya, tidak alasan kuat untuk memusnahkan dia dari muka bumi ini” Barjo coba memperjelas permasalahan dan sekaligus menjawab pertanyaan yang dia lontarkan sendiri.
“Itue namenye menjilet lideh buaye…” Plentus tiba-tiba mengetus begitu saja dan kontan seluruh warga yang tadinya diam kembali tertawa terbahak, terpingkal, terjungkal-jungka untuk kesekian kalinya dan tidak bisa dihentikan.
Akhirnya diskusi tersebut selesai dengan keputusan atas kesadaran masing-masing untuk membatalkan niat membakar rumah untuk memusnahkan lelaki kurus kering itu. Mereka pulang ke rumah mereka masing-masing masih dengan keadaan tertawa. Para istri dari warga yang ikut dalam gerombolan perencanaan itu dibuat bingung karena suami-suami mereka pulang dengan keadaan yang aneh. Suami mereka selalu tertawa tidak bisa dihentikan sampai adzan subuh dikumandangkan. Para suami mereka seperti kerasukan jin pelawak.

***
Keesokan harinya sekitar pukul delapan pagi, seluruh warga di bawah kekuasaan si Barjo digemparkan karena penemuan seorang mayat yang gantung diri di gapura perbatasan antara dua desa. Gapura itu terletak tak jauh dari rumah si lelaki kurus. Mayat gantung diri tersebut ditemukan oleh rombongan keluarga pengantin pria yang hendak menuju ke rumah pengantin wanita. Kebetulan rombongan tersebut memilih jalan yang melewati gapura perbatasan desa itu. Entah kenapa padahal sebenarnya ada jalan lain yang bisa dilewati rombongan pengantin pria itu untuk sampai ke rumah pengantin wanita tapi usut boleh usut ternyata salah seorang dari robongan itu berkata bahwa mereka memilih jalan tersebut karena sepi dan aman, mereka menghindari operasi cegatan polisi, soalnya sopir yang mengantarkan mereka adalah sopir tembak yang tidak punya biaya untuk membuat SIM. Ya tentulah ini sebuah keapesan bagi rombongan pengantin pria itu. Menghindari polisi tapi malah ketemu orang gantung diri. Untung Plentus tidak ada, kalau ada pasti kejadian itu akan diperibahasakan olehnya.
Seluruh warga yang gempar berbondong-bondong menuju ke gapura batas desa. Seperti kebiasaan warga, selau bergotong royong dan berbondong-bondong kemana saja dan untuk keperluan apa saja. Mereka mencoba mencari tahu mayat siapa yang menggantung di gapura itu. Setelah sampai di gapura seluruh warga belum bisa mengenalinya karena bagian wajah manusia yang gantung diri itu dibungkus dengan sak semen bekas.
“Siapa diantara kalian yang berani menurunkan mayat itu dan membuka sak semen yang menutupi kepalanya. Siapa tahu dia warga kita sehingga kita bisa menguburnya” lagi-lagi si Barjo dengan nada kencangnya menyuruh kepada warga.
“Kenapa gak sampeyan aja pak Barjo” celetuk warga yang juga hadir di sana.
“Lho, sayakan pemimpin di sini. Pemimpin itu harus di layani, bagaimana kalian ini!”
“Oooo….” Suara tanda paham seluruh warga  seperti paduan suara.
“Oya, mana si Plentus. Biarkan dia saja yang menurunkan mayat itu” Barjo menanyakan sekaligus memberi solusi kepada warga.
Ya seperti biasa karakternya memang begitu, bertanya sendiri dijawab sendiri dan selalu berusaha memberi solusi meski memberatkan orang lain.
“Oh, iya. Si Plentus saja yang menurunkan mayat itu” penyepakatan oleh salah seorang warga.
Mereka semua sibuk, pusing mencari keberadaan si Plentus bahkan lebih sibuk dan pusingnya melebihi para pejabat yang memikirkan projek apa lagi yang harus dimenangkannya. Seluruh warga sudah mengkerahkan semua usahanya mencari Plentus, tidak jua ditemukan. Di saat warga yang kebingungan mencari Plentus serta bingung bagaimana menurunkan mayat itu, dari rumah yang mereka cukup kenali yang letaknya di timur gapura terdengar suara teriakan.
“Gunting!!! Hahahaha….”
Suara berasal dari rumah lelaki kurus menggema di angkasa dan meluncur menusuk-nusuk telinga seluruh warga.
“O, ya… saya punya usulan cemerlang!” tiba-tiba si Barjo teriak dari arah barat gapura sehingga mengalihkan pandangan serta gerak kepala warga yang sedari tadi menengok ke timur gapura, kini ke barat gapura ke arah Barjo.
“Kita gunakan alat”
“Apa, apa…?” Tanya warga serempak.
Belum sempat Barjo menjawab, kembali dari arah timur gapura tepatnya dari rumah lelaki kurus itu  terdengar lagi suara teriakan.
“Ya… Gunting!!!”
Warga kembali menengok ke timur dengan serempak.
“Benar Gunting!!!” Barjo berteriak juga.
Warga serempak menengok ke arah barat.
“Gunting…” terdengar lagi teriakan dari arah rumah si lelaki kurus.
Warga kembali serempak menoleh ke Timur.
“Gunting!!!” Barjo kembali berteriak tak kalah kencangnya dengan terikan lelaki kurus itu.
Warga menoleh ke barat. Barjo dan lelaki kurus itu saling sahut-sahutan. Berteriak. Seluruh warga seperti entung menoleh ke kanan ke kiri. Ya, memang begitulah seluruh warga yang statusnya tak punya status, memiliki kemampuan yang istimewa yaitu plenggang-plenggang, toleh kanan toleh kiri pasrah tanpa tuntutan.
“Ya, Gunting!!!” kali ini barjo berteriak sangat keras sekali dan sepertinya teriakannya
itu membuat gentar suara yang berasal dari rumah si lelaki kurus kering. Tidak ada lagi sahutan.
Barjo segera memerintahkan warganya duduk secara rapi untuk mendengarkan pidato, solusi dari permasalahan menurunkan mayat yang gantung diri di gapura. Seperti biasanya pula tanpa dikomando, beberapa warga segera menyiapkan podium tempat Barjo berpidato dan tak lupa seorang gadis siap siaga di belakang Barjo sambil membawa kipas yang terbuat dari anyaman rumput ilalang siap menyejukan tubuh Barjo yang kepanasan karena sedang menjalankan tugas mulia yaitu berpidato. Barjo siap berpidato seluruh warga juga telah siap mendengarkan dengan seksama. Barjo menaiki podium yang sudah di sediakan. Perempuan yang membawa kipas sudah mulai mengayunkan kipasnya sejak tiga menit yang lalu dengan tujuan agar lalat dan nyamuk yang nangkring di podium kabur sehingga tak menyakiti si Barjo, pemimpin mereka.
“Saudara-saudara yang saya hormati dan saya muliakan dan juga saya cintai dan juga saya sayangi dan juga saya lindungi. Kita semua saat ini sedang mengalami suatu bencana yang sangat mengacaukan pikiran kita serta menyita waktu kita sehingga kita tidak dapat memiliki celah ruang untuk bertamasya atau setidaknya menghibur diri dengan mandi-mandi di laut atau berselancar bersama keluarga di gunung Hilayama” “Maaf tuan, Himalaya…” bisik perempuan yang sedari tadi berdiri mengipasi Barjo tanpa pamrih.
“Oya, maaf. Sebagai makhluk biasa tentunya kita, terutama saya tidak lepas dari kesalahan. Maksud saya Himalaya” Barjo mencoba mengkoreksi atas salah sebutnya terhadap suatu tempat tersebut.
Sebenarnya walau si Barjo tidak membenarkan atas kesalahan sebutnya, para warga tidak ada yang tahu tempat seperti apa itu atau bahkan baru kali ini mereka mendengarnya. Barangkali saja yang tahu tempat itu hanya Barjo dan perempuan si pengipas.
“Saudara-saudara semuanya, singkat kata saya akan memberi solusi yang sangat cemerlang guna menyelesaikan permasalahan yang pelik ini yaitu permasalahan bagaimana caranya untuk menurunkan mayat yang sedang menggantung di gapura batas desa. Solusinya adalah saya perintahkan kepada kalian semua untuk mengambil gunting besar, gunting rumput bukan gunting rambut. Gunting itu kemudian akan kita kreasikan sehingga tercipta karya maha super dahsyat, penemuan technologi yang fenomenal di negeri kita ini. Gunting besar itu di kedua gagang pegangannya akan kita sambung dengan batang kayu yang panjang dan kemudian setelah alat technologi penemuan kita itu jadi, kita bisa menggunting tali yang buat gantung diri makhluk itu dari bawah. Kita tidak perlu susah-susah naik gapura dan kita juga tetap steril dari darah yang kemungkinan keluar dari mulut dan telinga si penggantung diri itu. Bagaimana apa kalian mengerti?” seluruh warga mengangguk dengan serempak tanda paham akan solusi yang di pidatokan pemimpin mereka si Barjo.
“Baiklah, jika anda semua mengerti, lanjutkan!”
Seluruh warga segera melanjutkan perintah Barjo.
Warga yang merasa memiliki gunting besar, mereka kumpulkan dan diadakan seleksi pemilihan gunting siapa yang paling terbesar selanjutnya akan diciptakan alat teknologi yang super canggih. Alat penurun mayat gantung diri. Bagi pemilik gunting terbesar yang terpilih, namanya  akan masuk dalam buku world record.
Akhirnya alat tersebut selesai diciptakan. Semua terlihat gembira dan berbondong-bondong pula menurunkan mayat gantung diri tersebut. Mayat itu dapat di turunkan. Kemudian sak semen yang membungkus kepala mayat juga digunting dengan alat yang sama sehingga terlihatlah dengan jelas wajah mayat siapa itu. Seluruh warga terkejut, ternyata mayat yang menggantungkan diri itu adalah sosok yang sangat mereka kenali. Ternyata mayat itu adalah lelaki kurus yang selama ini disebut mereka sebagai si keparat pembawa sial. Mereka semua heran, lalu suara siapa yang mereka dengar tadi dari rumah si lelaki kurus itu. Mereka semua ketakutan, sebagian warga lari pontang-panting untuk sembunyi di rumah masing-masing begitu juga gerombolan penganti pria yang sedari tadi belum pergi, mereka ikutan segera kabur. Mereka mencari jalan yang lebih cepat yaitu jalan raya. Mereka kini tak perduli kalau nanti di jalan akan terkena cegatan polisi, andai saja nanti ketangkap anggap saja mereka sedang kena sial saja, polisi adalah kesialan selanjutnya bagi mereka hari ini.  Warga yang sebagaian tidak kabur sepertinya bukan karena dia tidak takut tetapi seluruh persendian mereka terasa lemas sehingga tidak bisa beranjak kemana-mana termasuk Barjo dan perempuan si pengipas.

***
            Tiga hari berselang dari peristiwa itu atas perintah si Barjo sang pemimpin, menyarankan  warganya supaya merahasiakan peristiwa yang pernah terjadi di kampungnya, termasuk mereka dilarang lagi menyungging atau bahkan sedikit saja mendesiskan kata gunting diantara mereka. Barjo juga memerintahkan agar alat teknologi penurun mayat yang super canggih ditarik dan dihapuskan hak patentnya atas cipta karya dari warga desa yang di pimpinnya. Seluruh warga yang di rumahnya memiliki gunting sebagai alat bekerja, supaya di buang dan di gantikan dengan alat lain. Apabila mereka hendak memotong rambut disarankan untuk menggunakan pisau dapur dan bagi mereka yang hendak memotong rumput mereka dapat menggantikannya dengan arit dan bila mereka hendak memaku kayu tentu mereka tidak perlu menggantikannya, mereka tetap boleh menggunakan palu karena selama ini mereka memang menggunakan palu untuk memaku bukan gunting. Ya, begitulah keadaan desa itu kini. tampak sunyi dan tentram tetapi sesungguhnya seluruh warga menyimpan ketakutan yang amat sangat di diri mereka masing-masing. Mereka harus benar-benar membatasi ucapannya, diperkenankan untuk menghancurkan sejarah atas penemuan yang pernah mereka temukan dengan alasan agar tidak terkuak masa lalu atau sejarah yang kelam dan dapat membahayakan stabilitas kehidupan warga. Demikianlah desa yang dipimpin oleh Barjo menjadi desa yang sangat anyep – nyep – nyep. Sepo.

The end…

Hehe, ya begitulah cerita saya yang berjudul Gunting. Semoga berkenan dan tidak membawa dampak apa-apa selain anda muak dan malas membacanya. Hihihi… (saya tentu mengeluarkan senjata klise karena saya tahu pasti anda bosan membacanya. Ceritanya kurang menarik, ceritanya nggak gue banget gitoch dweh… hahahahahahaaaa).
Oke, pokoknya terima kasih atas segala apa yang dirasakan, semoga saya bisa selalu mendapat dampak positif dari semua ini. Setidaknya yang terpenting saya terus bisa membangkitkan selera menulis saya. Menjadikan menulis adalah pekerjaan tetap saya dan semoga jika saya melakukan pekerjaan ini dengan sungguh-sungguh adalah jihad saya untuk beribadah. (sebenarnya ada satu hal lagi kenapa saya ingin membangkitkan selera saya menulis dan menjadikan ini sebagai pekerjaan, ini adalah sebagian wujud pengabdian dan balas budi atas jerih payah terhadap seseorang yang telah mencurahkan tenaga, pikir, materi, kasih sayang serta segalanya untuk mendukung saya menyelesaikan studi dan menjadikan saya seorang Sarjana Sastra).
Tentu, benar… saya sadar, sesadar-sadarnya bahwa tulisan saya ini belum mencerminkan saya adalah seorang Sarjana Sastra. Memiliki kemampuan menulis selayaknya Sarjana Sastra. Namun demikian, untukmu yang mencurahkan segalanya padaku, semoga segala bentuk karya ananda ini dapat sedikitnya menjadi penghibur atau apalah yang insya Allah bisa membuat kalian bahagia. Amin.

Tanggal 2 Januari 2012.
Pukul 12.02 AM.       

Wow, tak terasa sudah masuk hari ke dua di tahun yang banyak orang meramalkan sebagai tahun yang mengerikan. Hahahahaaaa, kalian percaya nggak? Ya, kalau aku… ehm… rahasia donk… wkwkwkwkw.
Ok, sip mari kita percaya pada Tuhan saja. Serahkan pada-Nya atas apa yang akan terjadi. Tugas kita adalah mempersiapkan menghadapinya. Ayo optimis, Tuhan Maha Pemaaf pokoknya… sip deh… hah udahlah malah salah ngomong ntar…
Oraet, ini udah malam aku juga mau istirahat tapi sebelum itu aku mau ke kandang dulu. Biasalah… ngasih makan kambing… hehehehe… (Hidup Sarjana Sastra. Di segala tempat kau pasti bisa segera menyatu. Satukan diri satukan dengan kondisi satukan dengan alam satukan dengan segalanya dan jangan lupa tetap teguhkan untuk tetap berkarya!!!) uye… asyik ya, Allah….

C U………………. (not ciu!!!)  : )

CATATAN WAKTU

Pukul 22.11 PM, 29 Desember 2011.
            Halo semuanya, apa kabar? Semoga saja masih dan selalu dalam lindungan Allah SWT, amin. Malam ini aku merasakan sesuatu hal yang tidak menyenangkan perasaanku. Membuat jengkel dan gak nyaman. Sebenarnya aku sudah sering mengalami hal seperti ini tetapi sesuatu yang seperti ini yang sangat aku tak skai. Aku paling sangat tidak suka terhadap seseorang yang tidak menghargai dirinya sendiri dengan mengecewakan orang lain. Mengabaikan, menyepelekan kesepakatan yang sudah disepakati bersama. Aku membenci orang yang tidak setia terhadap perkataannya. Ya begitulah. Seharusnya mala mini kami ada latihan teater tapi karena ada seorang actor yang tidak dating bahkan seringkali dia gak dating tanpa alsan apapun seperti menyepelekan. Karena tingkahlakunya itulah mala mini gagal latihan padahal sesuai jadwal dua hari lagi kami pentas. Ehm… memuakkan sekali. Tapi ya sudahlah dimaklumi aja mudah-mudahan orang yang kelakuannya seperti itu akan diberi pencerahan dan dia sadar betapa pentingnya menyelesaikan sesuatu hal yang sudah disepakati bersama dan terutama telah dia sepakati sendiri.
Oh, iya. Selain perasaan jengkel itu, malam mini aku memiliki perasaan lain. Perasaan cengeng… hehehe. Ya, perasaan itu muncul ketika tadi saat aku keluar rumah aku melihat bulan sabit yang menggantung di angkasa. Oleh karena itu aku rasanya pengen membuat sebuah cerita yang bertemakan cinta kali ini. Boleh ya? Okelah kalau begitu akan aku mulai saja menulis ceritanya. Cekidot…

CINTA DAN SEMESTA

Rino terlihat gelisah di ruang tamu kontrakannya. Dia mondar-mandir keluar masuk rumah. Sesekali dia menghempaskan tubuhnya di sofa yang terbuat dari busa empuk itu. Dia seperti memikirkan sesuatu yang membuatnya begitu gelisah. Sebatang rokok putih yang sedari tadi tercampak di asbak, dihisapnya kembali dalam-dalam lalu menghembuskannya ke langit-langit ruang tamu. Desahannya seakan membaur bersama kegelisahan yang dia rasakan.
Cuaca di luar nampak mulai remang, menandakan bahwa matahari telah menciptakan senja dan senja akan segera tergeser oleh malam. Satu jam lebih Rino gelisah mondar-mandir di rangan itu. Jam tangan yang melingkar di lengannya tak luput dari tatapan matanya yang memancarkan cahaya lesu.
“Ah, sudah jam tujuh malam. Jadi gak ya, tapi aku bingung mau mengatakannya”
Suara dering hp dari kantong Rino memecah suasana.
“Aduh, dia…, angkat gak ya, aku harus ngomong apa?”
Agaknya Rino terlalu lama berpikir sampai-sampai dering itu berhenti, tanda panggilan terputus.
“Sial…, kenapa gak kuangkat… dia pasti marah”
Hp Rino kembali berdering. Lagu dealova yang menjadi nada dering hp Rino seakan membawa suasana saat itu menjadi lebih mengelam. Rino segera mengangkatnya.
“Halo, iya maaf sayang tadi aku sedang ke kamar mandi. Iya… iya jadi kok, he’eh bisa-bisa. Iya ditempat biasa aku jemput kamu ya. Apa, gak usah di jemput, emang sekarang kamu di mana, apa?”
“Aku di depanmu sayang”
Rino terkejut mendengar suara yang muncul tiba-tiba dihadapannya. Ternyata seseorang yang menelponnya berada di depan pintu kontrakannya.
“Sudah matiin Hpnya”
“Loh, kamu kok sudah di sini Nadin  sayang, sama sapa kamu ke sini?”
“Ah, gimana sich sayang… ditunggu gak datang-datang!”
“Maaf…”
“Maaf-maaf, aku sudah nunggu di kost dari jam lima tadi tau. Katanya mau jalan sore sekalian makan malam, huh… nyebelin”.
“Maaf ya sayang… mau berangkat sekarang?”
“Nggak, tahun depan!”
“Hem… marah… ya udah ayo berangkat pacarku Nadin yang cantik…”
“Gombal…”
Tanpa berpikir panjang Rino segera menghidupkan vespanya. Di perjalanan Rino masih terlihat gelisah. Dia sebenarnya ingin mengatakan sesuatu pada Nadin. Atasannya di kantor mempromosikan dia untuk memimpin cabang perusahaan di kota lain.
Hubungan mereka bisa dibilang sedang hangat-hangatnya. Mereka memang belum lama menjalin hubungan kira-kira baru tujuh bulan. Setahun yang lalu Rino yang sedang ditugaskan oleh kantornya untuk mempresentasikan produk-produk perusahaan tempatnya bekerja yang bergerak dalam bidang distributor peralatan kantor di sebuah universitas swasta di Ibu Kota ia bertemu dengan Nadin.
“Kita mau makan di mana Sayang?” Tanya Nadin menghenyatkan Rino.
“Eh apa sayang?” jawab Rino terkejut.
“Kamu kenapa sich sayang, kok keliatan aneh dari tadi, kayak orang kebingungan?”
“Enggak sayang, nggak kenapa-napa kok. Tadi Tanya apa?”
“Ehm…, kita mau makan di mana?”
“Gimana kalau kita makannya cari tempat dan suasananya yang enak ya?” Rino mencoba memberi usulan agar dia bisa punya kesempatan dan kondisi yang pas untuk bicara dengan Nadin.
“Boleh, aku ikut aja pokonya”
Rino melajukan vespanya lebih cepat lagi. Cuaca malam itu sangat cerah. Meskipun lampu kota beramai-ramai mengerahkan tenaga terangnya, tetap tidak mampu mengalahan bintang yang berkerlipan serta bulan sabit yang seakan membentuk alis bidadari menampakkan wujudnya di angkasa. Kelokan demi kelokan, lampu merah demi lampu merah telah dilalui Rino dan akhirnya sampailah mereka ditempat yang dituju. Di sana ada sebuah tempat makan yang sangat indah. Gazebo-gazebo tempat makan yang didirikan di atas danau buatan dengan airnya yang jernih. Terlihat bunga teratai mengelompok dibeberapa tempat dan sepertinya sengaja diletakkan dengan posisi seperti itu sehingga teratai itu semakin mempercantik tempat itu. Begitu pula cahaya bintang yang berkelip memantul di danau itu. Kesenduan cahaya bulan yang memantul di air pun seakan bagai sinar lilin yang menghangatkan.
“Ayo, turun Nadin”
“Kita makan di sini sayang?”
“Iya, kenapa kau tidak suka tempat ini?”
“Wah, indah banget sayang… kok baru kali ini kamu ajak aku ke sini?”
“Ya, aku juga baru tahu kok sayang, tadi ada teman kantor yang ngasih tahu ke aku”.
Mereka berjalan mendekati gazebo-gazebo itu. Seorang pelayan menyambut mereka dan membawanya ke salah satu gazebo. Lampion-lampion di susun sepanjang jalan menuju gazebo dan di setiap ruang gazebo terdapat beberapa lilin-lilin kecil berwarna merah dinyalakan untuk menciptakan pencahayaan yang redup sehingga orang yang duduk di sana dapat menyaksikan pemandangan di langit tanpa ada gangguan pencahayaan yang berlebih.
“Silahkan mas Rino… saya tinggal dulu” Pelayan itu mempersilahkan.
“Ya, terima kasih mas”.
“Kok, pelayan itu kenal kamu mas?”
“Hehe… gak tahu Nadin, barangkali saja dia pernah lihat mas di TV…”
“Ehm… sok ngartis…” sedak manja Nadin sambil mencubit lengan Rino.
“Aduh… sakit sayang…”
Mereka berdua memang terlihat sangat serasi. Terpancar dari aura mereka ketika sedang bersama, terlihat bahwa ada kekuatan kasih sayang antara mereka. Melihat canda mereka dan balasan senyum antara mereka seakan-akan mereka adalah pasangan yang tak dapat dipisahkan sedetikpun. Ada kekuatan cinta dipertautan hati mereka.
“Mas Rino…”
“Iya, kenapa sayang” jawab Rino sambil meraih jemari Nadin dan menenggelamkan dalam genggamannya.
“Aku mau mas disampingku terus…”
Rino menghela nafas panjang. Sebenarnya dia pun demikian sama seperti kemauan Nadin tapi pekerjaan menuntutnya harus pergi.
“Kenapa mas diam, gak mau sama Nadin terus?”
“Eh, bukan begitu. Mas seneng banget kalo bisa sama Nadin terus, tapi…?”
“Tapi kenapa mas…?” Tanya Nadin dengan raut muka sedikit berubah.
Rino kembali menghela nafas lebih panjang kali ini.
“Nadin, mas mau ngomong sesuatu…”
“Apa, mas?” raut muka Nadin menampakkan progress perubahannya.
Rino kali ini menggenggam kedua tangan nadin sangat erat.
“Nadin, mas besok harus pergi ke luar kota untuk waktu yang cukup lama. Mas dipromosikan di perusahaan bos yang ada di Surabaya”.
Nadin menepiskan genggaman tangan Rino namun Rino menahannya.
“Nadin dengarkan dulu, mas belum selesai bicaranya”
Air mata Nadin menetes.
“Maafkan mas ya sayang…” pinta Rino sambil mengusap air mata yang mengaliri pipi Nadin.
Nadin terlihat sangat sedih. Tanpa sepatah kata, Nadin menepiskan tangan Rino dan berlari ke jalanan meninggalkan Rino. Rino mengejar Nadin..
“Mas Rino. Ini makanannya sudah siap, gimana?” tanya pelayan yang datang membawa pesanan yang sudah siap.
“Taruh saja di meja mas” jawab Rino sekenanya.
Nadin terus berlari ke jalanan, Rino berlari mengejarnya. Ternyata Nadin lari begitu cepat dan hilang di persimpangan jalan. Rino kehilangan jejak Nadin, kemudian dia bertanya ke seorang perempuan penjaga warung rokok yang kebetulan mangkal di persimpangan jalan itu.
“Bu, tadi lihat cewek lari ke arah sini nggak bu, larinya ke mana ya bu arahnya?”
“Aduh, tidak mas. Memang tadi sudah janjian belum?”
“Oh ya, terima kasih bu”
 “Ah, sial emang saya sedang nyari perek” ketus Rino dalam hati.
Rino kehilangan jejak dan memutuskan kembali ke warung makan untuk mengambil vespanya juga membayar makanan yang sudah dipesannya.
“Mas, makanannya saya bungkuskan saja ya?”
“Ah, nggak usah mas”
Rino menyusuri jalanan, matanya menyapu bersih setiap sisi jalan siapa tahu dia menemukan Nadin. Rino sangat khawatir kalau terjadi apa-apa sama Nadin karena Nadin belum tahu benar lokasi tersebut. Hp Nadin juga tidak bisa dihubungi. Rino terus menyusuri jalan, masuk lorong-lorong gang yang kemungkinan di lalui oleh Nadin tapi hasilnya juga nihil. Akhirnya dia putuskan untuk mencari ke kostnya, siapa tahu di sudah pulang. Sesampainya di kost Rino memberanikan diri mengetuk pintu pagar kost karena memang saat itu sudah bukan waktunya bertamu.
“Ah, sial. Ke mana sih ini orang-orangnya kok gak ada yang buka”.
Rino kembali mencari Nadin. Kali ini dia mencari Nadin ke hotel dan penginapan di daerah yang kemungkinan dilalui. Nadin juga tidak ditemukan. Tanpa putus asa, Rino kemudian menuju terminal bus, barangkali saja Nadin nekat pulang ke Banten, rumah orang tuanya. Sampai di terminal bus, Rino masuk ke bus-bus malam tujuan Banten atau yang searah ke kota tersebut, yang sedang parkir menunggu penumpang. Siapa tahu ada Nadin di dalamnya tetapi usaha Rino pun nihil hasilnya. Nadin tidak juga di temukan.
Keesokan paginya, Rino sudah cek barang di bandara, sebentar lagi pesawat akan membawanya terbang ke Surabaya. Nadin belum dapat dihubungi dan tidak tahu di mana keberadaannya. Rino bingung, dia harus memilih karir pekerjaan atau Nadin. Sebenarnya semalam dia ingin bicara bahwa kepergiannya ke Surabaya untuk urusan pekerjaan adalah juga menjadi bagian dalam perencanaan untuk menyiapkan masa depan ekonomi yang nantinya juga akan digunakan untuk hidup bersama Nadin karena Rino juga sudah serius ingin menjadikan Nadin istri dan ibu dari anak-anak mereka. Penerbangan sudah siap dan seluruh penumpang diperintahkan untuk segera menuju ke pesawat. Rino masuk ke pesawat. Di dalam hatinya dia berdoa, semoga Nadin bisa mengerti bahwa kepergiaanya bukan hanya untuk masa depan sepihak saja, bukan karena keegoisan semata tetapi masa depan bersama untuk jenjang yang lebih lanjut. Pernikahan.

Delapan bulan kemudian…

Rino masih santai di rumah dinasnya, dia dapat libur satu minggu karena target pekerjaannya sudah dapat diselesaikan lebih cepat. Hp yang diletakkan di meja kaca berbunyi, getaranya menimbulkan suara berisik. Dia malas mengangkatnya. Biasanya yang menelpon adalah teman kerjanya yang juga sedang libur ngajak kumpul, pesta kecil-kecilan menghilangkan stress. Hp terus berdering berkali-kali.
“Ah, siapa sih. Tahu gak diangkat ya sudah jangan telpon lagi!” celoteh Rino kesal namun tetap saja beranjak malas menghampiri handponnya.
“Ah, gak ada namanya lagi” Rino meletakkan hpnya kembali, urung mengangkatnya.
Hp kembali berbunyi, barangkali sudah yang ke tujuh kalinya.
“Halo… siapa, ada perlu apa, penting tidak?” tanya Rino dengan nada kesal.
“Rino ya…?” terdengar suara perempuan. Suaranya terdengar lemah namn agak berat.
Rino seperti pernah mendengar suara perempuan itu. Dia terdiam sejenak, mencoba mengingat suara siapa tersebut.
“Nadin….?” tanya Rino begitu bersemangat sampai setengah berjingkrak.
“Iya, Rino… aku Nadin”
“Nadin…”
“Rino, maaf aku hanya mau mengatakan sesuatu”.
“Apa sayang… kamu di mana sekarang, kita ketemuan ya?”
“Nggak usah mas. Aku mau bilang lewat telpon saja. Mas anak kita baru saja lahir mas”
“Apa Nadin?”
“Tut… Tut… Tut…” tiba-tiba telpon terputus.
Rino benar-benar terkejut mendengar keterangan Nadin. Antara percaya dan tidak dengan apa yang baru saja didengarnya. Nadin baru saja melahirkan anak mereka. Perasaan Rino berkecamuk. Rino mencoba menghubungi kembali Nadin tetapi selalu terdengar nada sedang sibuk dan beberapa saat kemudian hp Rino kembali berbunyi kali ini pesan singkat masuk.

Mas, ak msh tggal di Jkt n kl ms mw jenguk anak kt, mas tmwi Yeni ntr byr dy yg antr ms ke kntrkan bruku. Mksh Mas…

Tanpa pikir panjang Rino segera berkemas-kemas. Rino segera memesan tiket pesawat untuk keberangkatan ke Jakarta hari itu juga. Dia harus cepat ketemu dengan Nadin dan memperjelas semua yang terjadi. Sesampainya di Jakarta Rino langsung naik taxi untuk jemput Yeni di kostnya. Untung saja Yeni masih tinggal di Kost lama. Setelah itu mereka segera menuju ke kontrakan Nadin yang sekarang.
Keadaan jalan ibu kota yang macet membuat semakin tidak sabar Rino untuk segera sampai dan bertemu dengan Nadin. Akhirnya lepas juga taxi yang ditumpangi Rino dan Yeni dari kemacetan.
“Gang depan belok kiri ya pak” Yeni menunjukkan arah pada sopir taxi.
“Masih jauh kah Yen?” tanya Rino seperti tak sabar lagi.
“Sebentar lagi kok. Gang itu belok kiri dan ada perempatan kita ambil kanan, sepuluh meteran lagi sampai” terang Yeni.
“Oh, ya… ya…”
Sopir taxi membelokkan mobilnya masuk kearah gang yang ditunjuk Yeni tapi ketika hendak belok, dari arah berlawanan terdengar sirine ambulance.
“Ada ambulance melintas pak, kita mengalah aja dulu gak apa-apa. Kita jalan di belakangnya” saran Rino pada sopir taxi tersebut.
Ambulance tersebut ternyata juga belok di gang yang sama. Setelah ambulance tersebut belok, taxi itu melanjutkan jalan di belakangnya. Sampai di perempatan, ambulance memberi lampu sen kiri menunjukkan arah yang sama dengan tujuan Rino dan Yeni.
“Sepertinya ada yang sakit di kompleks sini, Yen?”
“Sepertinya begitu Rino. Mudah-mudahan cepat sembuh orang yang sedang sakit itu”
“Ya, amin. Semoga saja Yen”
Mobil ambulance berhenti.
“Mana rumahnya, Yen?” tanya Rino lagi, tak sabar.
“Itu, di depan mobil Ambulance itu berhenti. Pak kita berhenti di samping rumah berhentinya mobil ambulance ya, pak”
Taxi berjalan pelan-pelan melintasi mobil ambulance dan berhenti di rumah no 10 yang berpagar warna biru. Melihat warna biru terbesit wajah Nadin di benaknya. Ya, warna biru adalah warna kesukaan Nadin.
“Apa kita sudah sampai Yen?” Tanya Rino dengan nada tak sabar.
“Iya, kita sudah sampai, ayo turun”.
“Terima kasih ya pak” ucap Rino pada sopir taxi yang juga telah berjasa mengantarkannya untuk bertemu dengan Nadin. Taxi itu kemudian bergegas pergi begitu juga Rino dan Yeni tak kalah gesitnya melangkah menuju kontrakan Nadin. Yeni menekan bel rumah beberapa kali tapi belum juga ada orang yang keluar dari rumah itu.
“Mungkin kamu salah rumah Yen?” Rino coba bertanya sekaligus mencoba memastikan kebenarannya pada Yeni.
“Nggak, bener ini rumahnya” terang Yeni dengan yakin.
Kali ini giliran Rino yang menekan bel rumah. Belum juga telunjuknya menyentuh bel, seorang perempuan tua keluar dari rumah tersebut.
“Eh, mbak Yeni. Masuk mbak”
“Ya, makasih bu. Nadin ada bu?”
“Ada, baru saja pulang tadi pagi dari rumah sakit”
Rino semakin tidak sabar untuk segera masuk ke rumah dan ketemu sama Nadin. Mereka kemudian masuk ke rumah.
“Mbak Yeni langsung aja masuk kamar non Nadin, dia belum bisa jalan-jalan kondisinya masih lemah”
“Ya, bu…”
Yeni dan Rino segera menuju ke kamar Nadin.
“Ayo, Yen…” Rino semakin tak sabar.
“Eh, No… aku antar sampai pintu kamar ya, ntar kamu aja yang masuk”
“Kok, gitu?”
“Ah, udahlah aku ngerti kok”
“Baiklah. Udah ayo!”
Mereka menuju ke kamar Nadin. Yeni berhenti di muka pintu kamar. Rino langsung masuk ke kamar dan mendekati sosok perempuan yang sangat dikenalnya bahkan sangat dia cintainya. Nadin terlihat sedang tidur dan terdapat seorang bayi laki-laki yang juga tertidur pulas di ranjang bayi. Rino mendekati Nadin, menggenggam tangannya. Rino mendekatkan mukanya ke telinga Nadin.
“Nadin, sayang…” ucap rino lirih.
Perlahan Nadin membuka matanya, terbangun. Mata yang memancarkan kelelahan itu menatap tajam pada sosok lelaki di hadapannya. Mereka saling bertatapan. Butiran Kristal kasih sayang mereka mencair menjadi guliran air mata kebahagiaan. Mereka terhanyut dalam perasaan mereka. Hingga untuk beberapa saat mereka tak mampu berucap-ucap. Mereka berpelkan erat. Sangat erat. Yeni yang dari tadi menyaksikan dari pintu juga ikut terbawa suasana, ia juga tak sadar meneteskan air mata keharuan. Yeni tak kuasa melihatnya dan kemudian pergi meninggalkan mereka.
“Maafkan aku Nadin…”
“Aku juga, mas…”
“Aku pergi ke Surabaya karena aku punya rencana…” Nadin mencoba menyudahi penjelasan Rino dengan memegang pipi Rino.
“Sudahlah mas, Nadin tahu kok, Nadin mengerti” terang Nadin.
Mata Nadin memandang ke arah ke sosok bayi laki-laki yang tertidur pulas.
“Dia, mas… anak kita?”
“Dia anak kita Nadin?” tanya rino dengan perasaan yang berkecamuk antara senang dan kebingungan.
“Dia anak kita mas. Maaf aku gak terus terang sama mas”
“Maksudmu…?”
“Iya, mas. Waktu malam itu ketika mas bilang mau pergi ke Surabaya aku sangat terpukul. Sebenarnya malam itu juga aku mau bilang ke mas kalau aku sedang hamil anak kita. Tetapi belum sempat aku bilang, mas sudah ngomong mau pergi. Aku terpukul mas aku gak tahu perasaanku saat itu benar-benar bingung.
“Kenapa kamu nggak bilang terus terang Nadin?”
“Yam as, maaf. Aku sebenarnya setelah itu mau hubungi mas untuk bilang sebenarnya ke mas tapi setelah kupikir-pikir aku nggak mau merusak masa depan mas, karir mas. Akhirnya kuputuskan untuk tak menceritakan dulu sampai tiba waktunya yang tepat.
Mendengar penjelasan Nadin, Rino sangat merasa bersalah. Dia meraa telah membiarkan Nadin sendiri dalam masa kehamilannya.
“Maafkan mas saying telah membiarkan kamu menghadapi masalah sendiri”
“Sudahlah mas, semua sudah Nadin maafkan dan Nadin juga minta maaf mas sudah membuat mas khawatir selama ini”
Nadin menarik tangan Rino untuk memeluknya. Nadin juga merasakan kerinduan yang sangat besar. Mereka kembali hanyut dalam perasaan mereka. Rino mendekap sangat erat seakan tak mau lagi melepaskan pelukkannya.
Rino dan Nadin kini hidup bersama, mereka kemudian memutuskan menikah dan mengikrarkan janji pada semesta untuk selalu bersama selama-lamanya dan anak buah cinta mereka di beri nama Semesta. Mereka kini tinggal di Surabaya. Rino telah dipercaya menjadi manager di perusahaanya dan Nadin melanjutkan kembali studinya di Surabaya.

Waktu merambat selaksa embun yang mencair di dedaunan cemara. Perjuangan malam yang menciptakan embun di uji kembali oleh sang mentari. Malam tetap tak kenal lelah dia tetap menciptakan embun-embun. Perjuangan tidak aka nada habisnya walau penguji tetap ada bagai bayang yang selalu serta karena itulah keindahan perjuangan, ketika penguji tetap menyapa. Malam tetap saja akan menciptakan embun yang akan selalu mencair merambat pelan di dedaunan, dingin, sejuk dan indah selayaknya cinta yang akan selalu hadir dan bersemayam di tubuh pecinta juga selayaknya sang penyair yang setia pada bait-bait sajaknya dan membumbung tinggi di semesta. 

Pukul 01.35 AM…
Ehm… maaf ku sudahi dulu ya… kerasa pegel… sebenere masih pengen nulis terus… tapi kayaknya leher dan pinggul kerasa pegel juga…
Okelah besok kita lanjutkan lagi…
Bye…. Bye….
 

Geliat Jiwa Copyright © 2010 | Designed by: Compartidisimo