Kamis, 11 Agustus 2011

MEREKA ATAU AKU


Ray Mengku Sutentra
 
Pelabuhan
Stasiun
Bandara
Terminal
Pepasar
Tetoko
Jalan raya
Tidak ada riuh
Tidak ada mereka atau
Aku yang tiada




Yogyakarta, 11 Agustus 2011

Senin, 04 Juli 2011

TERONGGOK DI ASBAK KERTAS SELURUH


Ray Mengku Sutentra

Membakarnya lalu menyelipkan di sela bibir.
Mendengar suara angsa di kejauhan,
Menyimak sahutan kokok ayam jantan,
Meresapi paduan maha karya musik alam dan lantunan gesekan violin.
Dalam ilustrasi itu,
Bayang wajahmu menampar pipiku, menarik buas bulu kumis serta jenggotku.
Bergegaslah tidur dan selesaikan mimpimu untuk aku!.
Suaramu tanpa wujud.

Kepulan asap keluar dari mulutku
Merangkai jawab atas suaramu.
hufff
Terjemahkanlah sendiri,
lalu aku akan tidur.

Sebatang rokok,
Tuntas
Menjadi abu teronggok di asbak kertas
Seluruh!


Yogyakarta, 2011

Minggu, 03 Juli 2011

KETIKA KAU MENJADI BISU

Ray Mengku Sutentra

Ketika kau menjadi bisu
     : Penaku
Habis tinta.



Yogyakarta, 29 Juni 2011

SUATU MALAM


Ray Mengku Sutentra

bulan gagah dini hari
bias sinarnya melingkar serupa cincin
-          emas kawin
awan melintasinya
unconditioned response
-          menjadi lebih indah nuansa
memanggil bintang?
Jauh


Yogyakarta, Mei 2011

JANGAN BERTANYA PADANYA


Ray Mengku Sutentra

sembunyi sungguhlah tak baik, juga tak lazim
dalam gelap itu dia lebih mampu mengenal dirinya
dari pada berhadapan dengan cermin yang terang
membaca katamu
aku juga diam
entah apa itu
jangan bertanya padanya
karena masih banyak yang belum mampu ia jawab
pada kehidupan malam dia kembali pasrah
akan realita kehidupan
kemana dia akan pulang malam ini
langit kosong
diam
menggebu
gelisah
di mana, kapan, kau, dia, aku,
pulang?


Yogyakarta, Mei 2011

AKU DI DALAMNYA


Ray Mengku Sutentra
 
Menyulam kidung pagi.
Saripati kisah malam terserak mulai membening.
Menatap wajahmu ada cerita.
-                   -  Aku di dalamnya.



Parangtritis, Mei 2011

PASTI TUHAN MENDENGAR


Ray Mengku Sutentra
 
I
Sepanjang perjalanan dia memaknai risalah ornament kaca debu
Denyir anyir angin melekat pada lapisan kulit berkeringat
Suatu pagi diantara berjubel pagi, dia berfantasi seks dengan embun usang di pelataran rumah
Malaikat mengintip dari balik tirai jendela
Siang mengutuknya
Cemburu karena embun tak lagi perawan
Dia megutuk dikala siang, setara dengan malam
Dia mau tidur

II
Angka waktu melompat-lompat melebihi ingatan
Dia tertancap pada gundukan pasir pantai
-          Lapar
Dilahapnya dengan malu-malu
Meraupi wajahnya dengan pasir

III
Kembara
-          Ada sesuatu rebah pada butiran pasir
Kelahiran
Keraguan
Kaya rimba raya
Kematian
Kepalang
Kehilangan – Korek Api


Yogyakarta, 19 April 2011

 

Geliat Jiwa Copyright © 2010 | Designed by: Compartidisimo