Kering, sekedar mengais kata-kata saja seperti hampa, mereka sejenis manusia seperti aku pula, bicara tentang urusan-urusan manusia lain sedangkan aku sangsi apakah mereka selesai benar dengan urusan mereka pula aku sendiri. Sedang mengenal diri begitu rumit dan keras.
“Kemari, aku memanggilmu wahai makhluk yang sejenis kupu-kupu. Bentangkan sayapmu seberapa kau mampu, eh, mau dan persilahkanlah diriku untuk baring sejenak di dalamnya. Ya, mungkin sekedar istirah dalam pencarian yang samar”.
Tidak. Aku tak ingin maut itu sekarang, aku hanya sekedar rebah saja, istirahat. Ya, istirahat sejenak.
Ah, bosan mulai singgah, apakah ini akan berlama-lama?. Semoga sejenak saja seperti istirah.
Ah, muak untuk memulai senyum. Apakah ini akan berlama-lama?. Semoga juga tidak. Kemarau, semakin menjadi-jadi, dan dia lapar hatinya. Panas lambungnya, mual bertambah, kepalanya pusing. Dia adalah aku. Tak tahu apa yang ku bicarakan sendiri ini. Pekat dan dia hanya tahu satu titik sinar diantara hitam retinanya. Sinar itu entah dari mana asalnya, dia tak perduli. Dia menjadi semakin muak, karena banyak sampah yang merasuki pikirannya. Kasihan dia. Lebih tepatnya aku. Dia menolak. Bukan dia yang harus dikasihani, tapi dianya-dianya lagi, orang lain, ya bukan dia, lain orang. Dengan tanda seru yang besar dia merayu, dia-dianya yang wajib dikasihani. Akh, malas dia berbicara tentang malam lagi, karena sang penyeleksi sajak saja tak mengenal malam akhir-akhir ini, karena sibuk akan kebosanannya sendiri. Sajak, syair, hanya itu-itu saja. Bicara apa aku ini. Bunyi alarm hp tanpa izin mengusik.
“Bukan! Ini sudah kelewat malam, ini bukan malam”
“Lalu?”
“Mungkin dini hari. Yakin dini hari”
“Buktinya?”
“Akh entahlah, bersamaku mari meragu jika kau mau”
“Mau tapi tidak janji ya!”
“Semoga nasib baik bersamamu bung. Aku tidak mau mengantongi janji”
“Ayo akhiri tawar menawar ini!”
“Baiklah, cukup!”
“Kemudian?”
“Lalu?”
Bicara apa aku ini. Pintu, jendela, masih terbuka baru mataku menyusulnya, benda, wujud yang ada di dalam dadaku berpaling muka ke arahku. Aku sebut itu bukan dia, tapi aku. Aku berkata, teruslah bermain dengan irama itu, dengan-dengan, dengan mimpi, dengan celoteh, karena rentetan yang tak berarah itu akan menghasilkan spam yang banyak dan yakinlah andai itu menjadi virus maka akan ada yang memanfaatkannya, artinya aku bermanfaat bagi yang memanfaatkan.
“Tidak, bukan. Aku bukan pelacur. Karena aku tak pernah meminta dibayar menjalani ini”
“Suka sama cinta, cinta sama cinta, suka sama suka?”
“Oh, semua salah, aku memang tak pernah minta dibayar untuk ini. Aku memang bukan pelacur, ehm maksudku aku juga tidak melacur”
Ah, bicara apa aku ini, cahaya dari celah jendela dan pintu memaksa masuk, ehm maaf bukan celah tapi lebih panjang namun agak sempit dan itu bukan celah. Tapi?. Ah, ketukan ¾ demit terserahlah apa namanya. Oya, cahaya yang memaksa masuk itu memecah keperawanan mataku. Aku menjerit ough!!! hingga tersedak, sedikit batuk. Telingaku juga sedikit tersentuh reaksi, lobangnya membesar dan seketika yang terencana itu, lobangku yang melebar, maksudku lobang telingaku yang membesar eh, melebar sertamerta pun mencaplok getar bunyi, ehm bunyi yang bersuara meow…, ya itu suara harimau, dan taringnya mencakar-cakar keningku, tapi aku biarkan saja itu terjadi. Cukup lama sepertinya.
“Hahahaha… akhirnya makhluk yang menyerupai binatang itu berhenti disuruh Tuhannya”.
Aku enjoy berdiri seenaknya, semaunya, tanpa rasa sakit tanpa paksa. Lalu aku membuang ludah melalui lobang jendela, tak bersuara. Sepi. Sepi semakin sepi. Aku duduk kembali dan tidak bisa mengakhiri ini, sampai kapan ini.
“Oh, tolonglah diriku. Eh, tapi jangan tolong secepatnya ya. Oh, tolonglah diriku!”.
Akh, baiklah akan aku akhiri. Jendela akan kupaksakan menjadi cermin, lalu aku copy dia sebanyak dan secukupnya luas dinding kamarku. Setelah tepat ukurannya aku meyakini untuk mempastenya.
“Heayayaya… uye, aku yakin, dulu N, S, C, P, D, K, J, dan kawan-kawanya si A sampai si Z tidak bisa melakukan paste seperti aku, pasti mereka merasa ribet menjadi penulis”
“Ehm, memang mereka penulis, merekakan seniman?”
“Ya tergolong juga”
“Lalu apa mereka pemikir”
“Ya tergolong juga”
“Atau mereka adalah tergolong filsuf?”
“Mereka filsuf ya, emangnya mereka menikah?”
“Lha, mereka justru banyak menikah”
“Menikahi wanita?”
“Tidak mereka menikahi perempuan”
“Akh, sudahlah jangan sok tahu, cepat akhiri saja semua ini!”
“Baik”
Baiklah semua sudah aku copy paste, seluruh dindingku terbuat dari cermin sudah. Akhirnya aku tak dapat mengelak dari tajam pandangan-pandangan mataku sendiri. Seperti menghakimi. Aku takut. Sungguh kau harus percaya!. Aku takut dengan pandangan mataku sendiri. Akhirnya aku bersembunyi dengan cara memejamkan mataku, dengan begitu, otomatis sekaligus memejamkan mata-mata yang memandangiku di cermin itu. Selamat sudah aku. Tiba-tiba seluruh cermin itu pecah bersamaan dengan suara
“Meow…”
Lagi.
“Meow…”
Lagi
“Meow…”
Dan aku berteriak.
“Harimau…”
“Ayah…ayah… “
Suara harimau, jelas sekali aku mendengarnya.
“Meow….!!!”
“Ayah…ayah…”
Ya benar mungkin itu ayahnya harimau suaranya besar sekali.
“Meow…!!!”
“Ayah-ayah…” Krumpyang!!!.
Cerminya pecah, mengapa darahnya hitam, lalu mengapa harimau itu bisa bahasa manusia?
“Manusia-manusiamu itu, ini gelas kopi pecah, disampar kucing”
Aneh, manusia, harimau atau kucing.
“Yang aneh itu dirimu ayah”
Aku ayah?.
“Ya kau ayah yang gemar mengiggau”
Jadi?
Cuaca siang terik begitu panas, malam tua begitu dingin. Itu sudah dari dulu kala. Bodoh. Aku berjalan menuju padusan, aku hanya mencuci muka saja, karena belum datang seruan, jadi aku takut mengada-ada. Wajahku bersih, aku bersinar. Dinding kamarku terawang.
Tidak ada rak.
Tidak ada buku.
Tidak ada sepatu.
Aku masuk dari mana saja,
Tidak ada pintu.
Tidak perlu kunci.
Semau sendiri, karena saat ini aku hanya ingin sedang menghimpun keberanian untuk membangun igau-igauan yang berserakan.
Yogyakarta, 12 januari 2011



0 komentar:
Posting Komentar