Mata,
Petualang tua sinarnya tajam berteriak di puncak matahari.
Ditafsirkannya hari.
Tak ada sedu!
Sendu!
Tak perduli.
Petualang tua pemilik peristiwa,
Kau gambarkan genangan jiwa pada altar angin,
Kau putar tasbih senggamaan dua jarimu dan Tuhan,
Menjelma sajak penuh misteri.
Jangan kau hentikan kemesraan cinta yang tertinggal pada stasiun tua.
Berguncang bersama gerbong yang bergoyang dan membawanya ke ujung kulon.
Mungkin saja bahwa kau dan aku adalah masinis berkepala daya untuk membawa kereta berhenti pada perdu bukit cemara,
Semestinya.
Wahai
Mata tua
Kepala tua
Petualang tua
Pemilik jiwa
Demi purba yang merangkum kejenuhan akan pemberontakan gelap pada malam
Sungguh tak ingin kau dan aku dengar itu
“AKU TELAH HABIS DAYA”
Belum habis candu di wajahmu.
Yogyakarta, 26 April 2010



0 komentar:
Posting Komentar