Selasa, 03 Januari 2012

CATATAN WAKTU


Pukul 23.29 PM.
Halo, kita bertemu lagi ya…
Di kamar ini kembali aku mengistirahatkan tubuhku setelah aku mencoba menyusun bagian dari tujuan perwujudan mimpi. Tapi sebelum itu segelas teh telah kuseduh dan tak ketinggalan pula sebungkus rokok gudang garam surya sebagai temannya. Ya, benar sekali satu batang rokok telah menyelip di antara jari manis dan tengahku. Tanpa aba-aba dan perintah siapapun. Untuk kali ini sengaja kuputar musik dengan lagu campur baur. Ada instrument klasik juga lagu pop. Sengaja demikian karena aku sedang tak memiliki perasaan khusus kali ini.
“Sruput….”
Selamat bersentuhan dengan teh manis itu bibirku saying. Maaf kalau kau harus sedikit lelah saat ini karena tenggorokan sedang tak bersahabat. Batuk-batuk itu terus menohokmu.
“Sudahlah, berhentilah sejenak kau merokok” bisikmu bibir kepadaku.
“Duhai bibirku sayang, usahlah kau berkata demikian… sebelumnya aku mau bertanya denganmu. Apakah ada sesuatu hal yang begitu tulus dan sempurna atas segala perasaan dalam melakukan sesuatu?. Sepertinya kau tak menyadarinya, sesuatu hal yang begitu tulus dan sempurna adalah ketika aku menghisap rokok. Itulah hal yang begitu tanpa pamrih kulakukan. Selain itu coba katakan kepadaku, adakah sesuatu yang begitu setia menemani dalam keadaan apapun, dalam segala musim?”
Ya, dialah rokok itu yang selalu setia menyediakan diri.
“Apa, kau membandingkan dia dengan seorang kekasih?”
Ah…, banyak orang, maksudku banyak manusia yang telah sakit hati karena kekasihnya berkhianat atau kekasihnya tak lagi setia atau kekasih yang tak lagi tulus. Itukah kekasih yang  sempurna perasaannya ketika melakukan sesuatu hal kepada kekasihnya?. Menyedihkan. Hal itu tidak akan pernah terjadi dan tidak akan terjadi sifat penghianatan itu pada si rokok. Iya, mungkin saja aku lebih memilih rokok sebagai peraih award kesetiaan terhadap pasangannya.
“Kenapa bibir, ada pertanyaan lagi untukku?”.
Benar, tentu ada sisi positif dan negatifnya dalam memilih rokok atau kekasih. Begini, rokok tidak akan menghianati untuk meninggalkan pasangannya sedangkan kekasih tidak ada yang berani menjamin 100 persen bahwa dia akan setia sampai akhir hayat.
“Apa lagi bibir?”
Iya, rokok dapat membunuh terhadap sesuatu yang setia kepadanya tapi itu hanya sekali saja sedangkan kekasih, dia mampu membunuh berkali-kali sebelum sampai pada kematian tanpa nafas lagi. Ah, sudahlah… tak usah diperpanjang lagi perdebatan ini karena tak ada manfaatnya yang pasti aku hanya menuntut kebebasan akan hak memilih sesuatu dalam kehidupanku dan seandainya kebebasan itu akan membuatku menjadi seperti pohon tebu yang tak lagi menyimpan sari manis tak apalah itu sudah menjadi garis hidupku. Hehehe wakakakakak asyiek.
Kulupakan saja celoteh-celoteh tentang bibir dan rokok. Benar, tentu siapapun pasti sudah mampu menebaknya, aku sudah memiliki keinginan untuk membakar rokok lagi. Sebentar aku nyalakan dulu ya.
--- --- --- --- --- --- --- ---
Ok, sudah. Tepat. Di antara celah dua jari itu rokok kuselipkan dan merek rokoknya belum berganti untuk saat ini entah beberapa menit yang akan datang.
Baik, kini aku berhasrat untuk menulis tentang apa saja. Aku ingin berceloteh-celoteh semauku.

Pukul 12.05 am, 28 Desember 2011.
Pada suatu masa terdapatlah sebuah peristiwa. Peristiwa tersebut berkisahkan tentang diskusi antara makhluk yang bernama X dan Y. apabila nanti ada tambahan makhluk akan saya beritahukan, untuk sementara ini baru itu saja yang ada dalam kepalaku. Peristiwa itu terjadi di goa yang bernama M. Letak goa itu berada di Negara tanpa nama dan waktu kejadiannyapun tidak dapat diidentifikasi. Begini alkisahnya.
Si X sedang membersihkan lobang telinganya dengan gagang pacul di dalam goa. Entah seberapa besar lobang telinga si X tersebut. Aku sendiri tidak mampu menjelaskannya secara tepat karena aku hanya bisa mengimajinasikan saja. Tentu sesuatu yang berada dalam imajinasi tidak memiliki kepastian tetap seperti realita. Si X sedang menikmati kegiatannya tersebut tanpa menghiraukan keadaan di sekitarnya. Konsentrasinya full untuk urusan telinga. Sedangkan di mulut goa si Y terlihat mengendap-endap, merayap-rayap, menjilat sana-sini. Aneh memang kenapa si Y ini menjilat sana-sini. Kalau kau ingin tahu apa bentuknya dalam imajinasiku maka inilah si Y. Si Y ini memiliki tubuh yang sangat tipis setipis rumput ilalang, tulangnya lentur selentur karet gelang yang habis direndam minyak tanah. Benar sekali agak kenyal namun rentan putus makanya dia merayap, mengendap perlahan bahkan sangat pelan sekali kira-kira kecepatannya 0,000 berapa gitu M/detik. Wah pokoknya sangat pelan sekali. Aku sendiri sangat tidak sabar melihat geraknya. Si Y terus merayap dan sekitar waktu yang cukup lama sampailah si Y di depan si X. Si X setelah sekian lama belum selesai mengorek-ngorek telinganya dengan gagang pacul. Si Y sangat keheranan. Sambil melet-melet dia menyaksikan dengan seksama pada si X. Akhirnya tak sabar pula ia ingin menanyakan kepada si X apa yang sedang dia lakukan sebenarnya. Barangkali saja ada nilai simbol tertentu atas tindakannya itu. Mungkin ada pertanda dari tanda. Halah opoh….?.
“Hey si X, kamu itu lagi ngapain?” Tanya si Y kepada si X yang terus mengorek-ngorek telinganya bahkan terlihat semakin asyik. Si X tidak menjawab pertanyaan si Y.
“Hey mister X, kamu itu ngapain?” Tanya si Y lagi.
Kali ini si X memicingkan matanya kepada si Y. Ehm, rupanya si X dari tadi mengoerk telinganya sambil mejemin mata.
“Eladalah olanala pane rajo humba rasahenatawae…” jawab si X.
“Weitz… hompipa alaikum gambreng, kamu itu malah ngomong apa. Ditanya belum jawab malah memberi misteri lagi dari jawabanmu. Dasar si X pekok”.
“Hehehe…  dirimu si Y. Kamu disini. Kok tiba-tiba aja mendungul di depanku”.
“Si X, kamu ngapain sih?”
“Edan… ditanya belum jawab malah balik nanya. Piye kau ini Y…?”
Nampaknya memang si X dan si Y ini sama-sama bingung. Sebenarnya siapa yang lebih dulu nanya dan siapa yang sewajibnya harus menjawab dan dijawab pertanyaannya. Rupanya begitulah bahwa biasanya satu pertanyaan yang belum mampu dijawab sudah muncul pertanyaan lagi dan muncul misteri lagi yang harus dipecahkan.
Lama mister X dan Y saling diam. Mendiamkan diri dan mendiamkan sesuatu. Tampaknya mereka seperti merenungi akan kebingungan yang saling dilontarkan antara mereka. Mister X bingung dengan keasyikannya mengkorek-korek lobang telinga dengan gagang pacul sedangkan si Y bingung dengan masih tetap lelet, klolat-klolet dan melet-melet. Begitulah mereka bingung. Aku juga bingung. Bahkan waktupun ikut bingung menyikapi si X dan si Y. Waktu merasa serba salah, apakah dia harus berjalan cepat meninggalkan mereka dalam putaran hidup yang terus mengalir atau harus mengikuti ritme si X dan si Y sedangkan kehidupan di luar goa berjalan dengan cepat sangat cepat.
“Hey si X, aku mau bertanya lagi kepadamu”
“Benarkah demikian?”
“Belum juga aku melontarkan pertanyaan kau sudah menanyaiku dulu. Dasar pekok!”
“Ok, baik. Bertanyalah…”
“Si X aku mau tanya. Bagaimana menurutmu jika aku bereinkarnasi menjadi aku yang baru dan memulai suatu kehidupan yang lebih baik dan mulia setidaknya dari diriku saat ini?”
Mendengar pertanyaan si Y, si X spontan membuka matanya lebar-lebar dan tak sengaja ia memasukkan seluruh gagang pacul hingga masuk ke lobang telinganya seluruh sampai tembus ke lobang telinga satunya.
“Kenapa kamu seperti itu si X, kau tidak menjawab pertanyaaku malah kau memberikan ekspresi aneh dan itu seperti sebuah misteri yang perlu aku jabarkan maknanya”.
Si X lalu berdiri dengan mata melotot, seakan-akan bola matanya menjadi lampu stadion yang benderang di dalam kegelapan goa.
“Kok melotot si X?”
Sambil tertawa lebar si X mengatakan sesuatu kepada si Y.
“Huahahahahakamuhuahahaituhuhuhahahadaahahahadahsahahahahajawuahahahahahaha…..”
“Ngomong apa….? Kalau mau ngomong itu yan ngomong dulu dan kalau mau ketawa ya ketawa dulu jangan serakah gitu jadi orang!” Si Y terlihat jengkel dengan perlakuan si X yang seakan-akan meremehkan pertanyaannya.
“Ngomong yang jelas!”
Sekejap kilat, secepat cahaya si X terdiam.
“Baiklah si Y, sebelum aku menjawab pertanyaanmu aku akan bercerita tentang sesuatu kepadamu”.
“Apa itu penting, apa itu ada hubungannya dengan pertanyaaanku, apa itu…”
“Cukup-cukup!!!” si X memotong perkataan si Y.
“Belum juga aku menjawab yang tadi, kamu sudah bertanya lagi. Tak pikir-pikir kamu itu kaya polisi. Cerewet tanya-tanya terus. Dengarkan saja ceritaku!”
Si Y tidak berkata apa-apa, dia hanya mengangkat tangannya dan mengayun-ayunkan ke kanan dua kali ke kiri dua kali ke depan dua kali ke belakang dua kali sebagai tanda bahwa ia setuju dengan permintaan si X untuk mendengarkan ceritanya terlebih dahulu tanpa ada pertanyaan lagi.
“Baik kalau kau setuju. Begini kisahnya…”.
“Sebelum aku menjadi seperti ini, dulu aku adalah seorang manusia seperti manusia-manusia di luar goa ini. Bentuk tubuhku masih ideal, tidak seperti sekarang ini.
“Ya si X, bentukmu sekarang memang sangat aneh. Kok bisa, makhluk kok bentuknya seperti itu, lengan panjangnya hanya 30 cm tetapi memiliki telapak tangan berdiameter 4,5 meter, tinggi badan 1 meter, ukuran kepala sebesar bola kasti dan yang lebih aneh lagi itu bentuk telingamu… hahahaha… telinga dengan minim daun tapi lobang yang elastis bisa dimasukin benda apa saja termasuk tubuhmu bisa sembunyi di dalam telingamu sendiri… hahaha aneh… aneh…”
“Cukup!. Aku tidak mau berdebat dan saling berolok-olok atas keanehan tubuh kita karena itu tidak penting. Buat apa saling menjatuhkan antar sesama orang aneh dan yang lebih penting aku belum kelar ceritanya!”.
“Oya, maaf… maaf. Lanjutkan!” Perintah si Y dengan gaya dan suara yang sangat bijaksana seperti gaya orang nomer satu di negeri yang super makmur.
“Baik aku ulangi sedikit. Dulu aku adalah manusia sempurna. Aku adalah seorang pangeran dari sebuah kerajaan besar, sebuah negeri yang damai sentosa. Wajahku tampan keringatku harum, rambutku panjang ikal, wah pokoknya tidak ada satu perempuanpun yang tidak berhasrat utuk meniduriku bahkan sampai-sampai banci yang buka salon di perempatan dekat kerajaanku pernah mengirim telik sandi untuk memata-mataiku. Menunggu saat aku mandi dan melukisku tanpa sepengetahuanku. Ehm untung saja saat itu baru bagian kepala dan ketiakku saja yang sempat terlukis karena keburu telik sandi itu tertangkap oleh pengawal pribadiku. Pokok intinya aku sangat menawan dan mengagumkan. Hingga pada suatu ketika aku jatuh cinta pada seorang janda kembang, bekas istri saudagar susu unta dari timur tengah. Kau tahu si Y, janda itu asli orang timur tengah. Wow hidungnya mancung, badannya basah, pipinya sedikit tembem, janggutnya belah jambe, rambutnya hitam lurus dan kulitnya langsat tidak seperti kulit orang inggris yang kemerah-merahan kayak hot dog. Dia seorang perempuan yang cantik, sungguh semuanya adalah kriteriaku. Singkat cerita aku…”.
“Hey si Y… kamu dengerin ceritaku apa tidak, kok malah ongap-angop, ngantuk kamu ya?”
“Hehehe… ak dengerin kok si X. Aku angop bukan karena ngantuk tapi sedikit meregangkan dinding mulutku karena kecapekan, lidahku gak mau diam selalu melat-melet…”
“O… gitu to… ya baik aku lanjutkan”.
“Singkat kata aku nekat menikahinya. Aku tak perduli orang tuaku yang raja itu tidak menyetujuinya. Yang terpenting aku cinta dia cinta dan kami putuskan menikah”.
Tiba-tiba wajah si X berubah sedih dan terbata-bata sampai-sampai susah untuk berkata-kata.
“Loh, kenapa kok kamu sedih si X?”
“Hug…hug… akika sedih si Y”.
“Kenapa…?”
“Aku sedih karena setelah aku menikah dan kami hidup hampir selama 175 tahun bersama, kami tak bisa memiliki keturunan dan lebih menyedihkan lagi ternyata aku yang mandul dan sejak saat itu aku menyumpah-nyumpah, menyesali ketampananku. Pada suatu waktu aku pergi ke gunung yang teramat tinggi untuk berdoa di sana, meminta pada SANG PEMBERI WEWENANG SELURUH ALAM SEMESTA DAN MAKHLUKNYA ini untuk mereinkarnasi diriku. Dalam doa itu aku meminta supaya aku direinkarnasi menjadi makhluknya yang tidak mandul, supaya aku bisa memiliki anak. Setelah aku selesai memanjatkan doa tiba-tiba langit seperti terbelah dan sebuah cahaya terang benderang menyembur ke arahku dan seketika itu juga aku tidak sadar. Sadar-sadar aku sudah berada di dalam goa ini”.
“Tragis sekali… lalu ke mana istrimu?”
            “Aku tidak tahu ke mana istriku sekarang”.
            “Eh, tapi sekarang setelah kamu direinkarnasi apa kamu sudah tidak mandul lagi?”
            “Nah, itu juga yang menjadi permasalahanku lagi, soalnya aku belum pernah mencobanya”.
“Lo, kenapa kau tak mencobanya saja”.
“Edan kamu, goblok, buta kamu ya…?”
“Kok malah memakiku?”
“Mana ada yang mau dengan bentuk tubuh yang anehku ini, ha?”
“Hehehe… iya juga. Barangkali saja kalau ada yang mau denganmu adalah makhluk yang lebih menjijikkan darimu”.
“Ya, kamu benar…, eh tunggu sebentar”
            Si X menatap si Y dengan tajam seakan memberi suatu pesan makna.
“Kenapa memandangiku seperti itu. Wah, jangan-jangan… kamu…? Ehm… jangan kira aku seperti yang kau kira si X!”
“Ya… ya…”
“Apa maksudnya?”
Si X semakin menatap tajam menelanjangi seluruh bentuk si Y yang elastis, kenyal, klemir-klemir kayak karet gelang yang diceburkan ke minyak tanah. Sedangkan si Y seperti menahan ketakutan yang amat sangat dia mencoba bergerak menjauh dari si X.
“Heh, kenapa kau mau pergi si Y?”
“Ah aku gak mau sama kamu!”
“Loh, apa kamu salah makan obat ngomong seperti itu?”
“Lah itu, tatapan matamu yang belok itu mengisyaratkan bahwa kau mau mencabuliku, iyakan?”
Mendengar ucapan si Y, si X tertawa terpingkal-pingkal, suaranya sangat keras menggema ke seluruh ruangan gua. Gemanya laksana gemuruh ombak tsunami yang pernah terjadi di Aceh tanggal 26 Desember 2004 yang lalu.
“Hahahahahahagemuruhderudeburbyurbyurmurururururuhhhh…. Kamu itu lancang si Y, kamu salah paham, salah memaknai tatapan mataku…”
“Ah, kamu itu tensin aja mengakui bahwa kau naksir aku, iyakan?”
“Begini aku luruskan makna tatapanku. Aku menatapmu bukan karena aku suka kepadamu. Aku menatapmu karena bentuk tubuhmu itu sangat menjijikkan, sangat aneh melebihi diriku dan justru aku menyiapkan kata penolakan kalau seandainya kau akan jatuh cinta kepadaku lalu menghendaki kejantananku yang sempurna setelah reinkarnasi ini. Ketahuilah si Y, meski aku gak pernah mencoba senjata pamungkasku ini tapi tidak akan sembarangan mencobakan kepada siapapun apalagi kamu. Lebih baik aku biarkan dia menjadi jelly saja. Hahahahahahahahahhahahahahahaha”.
“Sial. Kurang ajar kamu, bangsat keparat dasar makhluk aneh yang sombongnya setengah mati, dasar silobang telinga yang menjijikkan… dasar… dasar… tit………….”
Mendengar penjelasan si X, si Y sangat tersinggung dan dia terus mencaci maki, seluruh kata-kata tak pantas dia keluarkan semuanya.
Sementara si Y mencaci si X, dari keremangan gua muncul sesuatu makhluk yang serupa cahaya  berwarna putih dan bentuknya mirip kunang-kunang, sebut saja si Z muncul terbang berputar-putar antara si X dan si Y. Si Z merasa muak melihat keributan yang terjadi.
“Dasar makhluk-makhluk bwodoh dweh kalian ini. Kalian tidak pernah mensyukuri keberadaan kalian. Yang satu tidak puas menjadi seorang pangeran dan satunya lagi tidak memetik pelajaran dari satunya. Mbokya disyukuri saja kehidupan kalian. Aku saja yang selalu menjadi bahan fitnahan orang saja gak pernah marah kok. Aku selalu difitnah sebagai kukunya setan dan selalu dijadikan bahan untuk menakuti anak-anak kecil yang polos. Dasar kalian pwekok dweh, bwodoh dweh…”
Si Z lalu terbang meninggalkan mereka keluar dari gua. Di luar gua dia melihat pemandangan yang sangat indah. Dunia yang jauh berbeda dengan keadaan di dalam goa. Dia bermain-main di taman bunga. Dia hinggap ke satu bunga indah nan harum ke bunga  yang lainnya. Lalu hujan turun, dia bermain di guyuran hujan, dia bernyanyi tembang-tembang cinta. Dia melepaskan segala keadaan dan masalah yang ada di dirinya. Dia mengikhlaskan segala yang terjadi padanya hingga pada suatu ketika terlihat kilatan petir dan terdengar gemuruh yang sangat keras menyambar dirinya. Seketika si Z terkapar tersungkur di bumi tanpa nyawa lagi.

Tanggal 28 Desember 2011.
Pukul 1.32 AM.
Ya, begitulah celoteh-celotehku. Akhir dari cerita di atas adalah si Z mati kesambar petir setelah berpesta pora dengan keindahan hingga lupa akan segalanya. Dia lupa bahwa saat itu adalah bulan desember di mana di bulan itu adalah saatnya musim penghujan datang dan di musim hujan petir akan selalu datang menyambar apa saja yang kebetulan di lewatinya. Si Z lalai dan kurang waspada, dia terlena dan telah berbuat hal membahayakan dirinya sendiri. Kalau tidak salah perbuatan membahayakan diri sendiri apa lagi orang lain adalah sesuatu yang di larang oleh yang memberinya kehidpan.
Sedangkan di dalam gua, si X dan si Y masih terus bertengkar saling mencaci dan memaki. Mereka tidak lagi memperdulikan segala keadaan yang terjadi di luar goa. Dia juga tidak mendengar gelegar petir yang dahsyat telah mematikan satu makhluk ciptaan dari yang menciptakan mereka. Si Y dan si X asyik dengan pertengkaran mereka sendiri, mereka individualis, kurang baik jika menjadi makhluk sosial. Mereka menutup pergaulan karena kondisi mereka yang aneh. Si X dan si Y terus bertengkar di dalam goa. Suara dari caci maki antara mereka terdengar sampai kepemukiman padat makhluk di luar goa. Seluruh makhluk penghuni pemukiman padat tersebut berbondong-bondong menuju ke goa tetapi mereka tidak berani masuk ke dalamnya karena goa tersebut sangat gelap dan sangat dalam. Mereka penghuni pemukiman padat itu akhirnya bersepakat membuat sebuah hipotesis spekulatif bahwa goa tersebut terdapat penunggunya yang sakti mandra guna. Mereka semua langsung membuat sesaji-sesaji sebagai persembaan kepada si X dan si Y. Menurut ketua adat penghuni pemukiman padat itu setiap warga yang akan menggelar hajat mereka harus memberi sesajian persembahan dan diletakkan di mulut goa yang dihuni oleh si X dan si Y agar tidak terjadi hal buruk dan hajatnya lancer tanpa suatu halangan, amin… hehehe maaf saya tarik kata aminnya ya… boleh toh?. Ya begitulah akhir dari celoteh saya ini. Maaf kalau ada sesuatu hal yang kurang menyenangkan atau tidak enak untuk dibaca karena sebenarnya aku sendiri juga sudah menduga bahwa ini akan sangat tidak enak dan memuakkan untuk dibaca apalagi ketika anda sedang kurang makan atau dalam kondisi putus cinta. Oya, maaf lagi kalau ada sesuatu hal yang menyinggung karena saya tidak ada bermaksud menyinggung dan ini hanya celoteh fiksi saya saja. Saya hanya menuruti apa yang menjadi kekacauan di kepala saya dan kesemrawutan jari-jari tangan saya yang selalu terselip sebatang rokok di antara jari manis dan jari tengah saya. Ok baik terima kasih selamat istirahat.
Bye… bye…

Continued…

0 komentar:

Posting Komentar

 

Geliat Jiwa Copyright © 2010 | Designed by: Compartidisimo