Selasa, 03 Januari 2012

CATATAN WAKTU


Pukul 19.11 PM.
Segelas kopi panas kuseduh sendiri sesuai seleraku tidak ketinggalan gudang garam surya menyelip di antara jari manis dan tengahku. Lantunan karya Bach menemani telingaku. Ah, suasana menjadi sangat mendayu-dayu. Semua kenangan seperti memaksa-maksa keluar dari kepalaku. Masa lalu yang sudah terlewat yang sengaja ingin aku lupakan memaksa untuk kuingat kembali. Ah biarkan sajalah dia mengawang-awang di antara kemauan dan tak aku untuk mengingatnya. Hari ini adalah hari ini dan hari ini untuk menatap masa depan. Ya, betul… masa lalu adalah tabungan untuk masa depan dan tentunya lebih lampau dari hari ini, tetapi bagiku masa lalu seperti menjadi suatu yang sia-sia karena menurutku selayaknya apa yang kudambakan tak dapat kumiliki secara nyata. Ya, tentu senyata seperti pandangan umum saja. Ah, kenyataannyata, sebenarnya seperti apa?. Bagiku sendiri juga menjadi sesuatu yang sangat absurd. Kenyataan lebih ada terlebih dahulu dalam pikiran kita, baru nyata secara keberadaannya. Ya, begitulah yang membuat ada dan tiada adalah ketika pikiran kita masih mengontrolnya lalu hati meresponnya dengan seimbang. Ehm, mungkin begitu saja karena berbicara seputar antara nyata ada dan tiada tidak akan pernah ada habisnya tidak akan selesai.

Pukul 19.21 PM.
Dua puluh menit berlalu dari pukul 19.11 pm… kali ini lantunan Beethoven yang menemaniku. Wah mereka memang manusia yang sangat luar biasa. Kemampuannya menciptakan musik mampu menghipnotis setiap pendengarnya tanpa terkecuali. Oya ada kecualinya tentunya yaitu terkecuali orang tuli.  Selamat datang kopi lampung, kuterima kau sepenuh hati dan jiwa, menyentuh bibirku dan merangsek ke sela-sela lambungku. Silahkan kau bermain di sana sementara aku menghisap rokok ini. Luar biasa nikmat dan mantabnya. Ya, begitu sederhana sekali selera kenikmatanku. Tak ada yang istimewa, sama seperti mereka-mereka lainnya.
Adzan isya telah dikumandangkan dari mushala dekat rumahku. Memanggil semua umat, seruan menandakan bahwa waktnya menghadap Tuhan. Ehm, rokok sudah habis sebatang, kopi isinya masih 2/3 gelas. Masih sayang untuk kutinggalkan. Ya, tak apalah. Kunyalakan lagi rokokku. Kasihan si kopi tak ada teman dia. Malam ini aku ada jadwal latihan teater. Masih saja aku menyetiakan diri untuk satu hal ini. Aku rasanya sudah menjadi satu dengannya. Terkadang aku ingin pergi dari itu teater dan menjadi umum saja seperti orang-orang disekitarku tepatnya di kampungku tetapi rasanya jika aku pergi meninggalkannya aku merasa tidak menjadi apa-apa. Aku seperti manusia yang dilahirkan tanpa sesuatu maksud dan tujuan. Tidak memiliki tujuan dalam hidupnya. Datar, monoton, hambar tidak ada perbuatan apa-apa. Teater sebenarnya juga menjadi bagian dari masa lalu yang aku rintis sejak belasan tahun yang lalu. Ketika aku masih berumur belasan dan sekarang aku sudah menempel ketat di kepala tiga. Dari semua masa lalu yang ingin kubuang habis-habisan, hanya teater yang masih aku pertahankan atau mungkin sebenarnya aku sudah berusaha juga untuk membuangnya tapi dia yang selalu membuntutiku, mengikutiku bahkan selalu bermain dalam setiap nafas yang silih berganti keluar masuk ke paru-paruku. Ah, biarlah dia terus bersamaku sampai ke liang lahat itu jika dia tetap mau bersamaku dan andai dia suatu saat berkhianat padaku dan menjadi pembunuh akan diriku sendiri tak apalah biarkan dia terbang bersama angin musim ke musim. Biarkan dia mencari kehidupannya.
Pukul 19.37 PM.
Aku akan menyemai mimpi-mimpiku, dan sebelum aku beranjak dari tempat ini akan kutilskan sebuah sajak terlebih dahulu dalam folder lain di komputerku ini…
Continued…

0 komentar:

Posting Komentar

 

Geliat Jiwa Copyright © 2010 | Designed by: Compartidisimo