Selasa, 03 Januari 2012

CATATAN WAKTU


Pukul 19.48 PM. 1 Januari 2012
Hay, semuanya… gimana kabar kalian semua… semoga selalu dalam lindungan-Nya. Amin.
Malam ini tidak ada yang special, kecuali nasi goreng petai buatanku sendiri, hehehe. Ya, barusan aku membuat makan malam dengan menu nasi goring petai dan campuran balok tempe. Wah rasanya sangat mak nyus deh… apa, kalian pengen tahu cara membuatnya? Ok, deh. Jadi cara membuat nasgor alaku adalah:
1.      Bumbu yang perlu disiapkan adalah, bawang merah, bawang putih, garam, penyedap rasa atau ak sebutnya micin terus jangan ketinggalan cabai rawit. Banyaknya bumbu-bumbu tersebut disesuaikan selera masing-masing ya. Terus yang pasti harus ada adalah petai satu tangga terus tempe. Oya nasinya jangan lupa, hehehe.
2.      Cara memasaknya adalah, bawang merah, bawang putih, cabai rawit, garam dan micin diuleg jadi satu. Selanjutnya petai dan tempe diiris kecil-kecil.
3.      Nyalakan kompor, pasang wajan dan tuangkan minyak secukupnya. Setelah minyak panas pertama-tama masukkan dulu tempe yang sudah diiris setelah agak matang masukkan lagi petainya dan bumbu yang sudah diuleg tadi. Langkah selanjutnya masukkan nasi dan aduk sampai rata sampai matang. Setelah matang siap untk dihidangkan.
4.      Selamat menikmati nasgor petai dan irisan balok tempe ala aku… hehehe…
Ya, begitu deh tadi aku masaknya.
Ok, malam ini aku pengen nulis sesuatu lagi dan barangkali saja aku mau nulis apa adanya, bebas sesuai dengan apa yang menggentayang di imajinasiku. Aku pengen nulis kalau nggak ada perubahan nantinya akan kuberi judul GUNTING. Makna dari judul terserah kalian semua menafsirkan saya tidak akan membatasi dan biarkan karya itu menjadi sesuatu yang berdiri sendiri. Saya mengutip  Pram “karya yang saya ciptakan saya anggap sebagai anak-anak saya, biarkan dia hidup dan mencari kehidupannya sendiri” begitu sih kurang lebihnya… hehehehe. Baik langsung saja ya, aku juga udah pengen berkunjung ke dunia imajinAtif itu. Sampai ketemu di sana. Bismillah….

GUNTING
            “Ayo kita bakar saja rumah itu!”
Teriak salah seorang warga yang bernama Barjo, lelaki yang bertumbuh pendek namun gempal. Dia yang menjadi komando puluhan orang menuju ke sebuah rumah yang terletak di bibir desa itu, rumah yang berada pada wilayah tapal batas antara dua desa.
“Ayo percepat langkah kalian, kita bakar rumah dan si keparat itu!” teriak Barjo suaranya sampai menerbangkan burung-burung gereja yang sedang tidur di pepohonan kelapa.
“Ayo, kita habisi si pembawa bencana itu” timpal salah seorang warga yang ikut dalam gerombolan.
Puluhan warga itu terlihat sangat murka terhadap seseorang yang dianggap pembawa sial di kampung itu.

***
Malam berada dalam posisi tengah-tengah, angin sepoi-sepoi menggesek dedaunan kopi coklat yang kebetulan tumbuh di halam rumah itu. Beberapa daun keringnya gugur dan terbang bebas menyatu dengan tanah yang ditumbuhi rumputan liar. Rumah yang berada di tapal batas itu terlihat remang karena pencahayaanya hanya dari lampu ublik. Bias cahayanya penuh ketakkuasaan menembus dinding rumah yang terbuat dari anyaman bambu. Di dalam rumah seorang lelaki bertubuh kurus kering dengan rambut panjang sebahu sedang mondar-mandir di dalam rumah. Sesekali dia terlihat seperti sedang bicara dengan seseorang namun tidak ada orang lain di rumah itu selain dia sendiri. Lelaki itu memang terlihat aneh karena selain berbicara sendiri dia kadang-kadang juga teriak keras-keras, tertawa kencang-kencang dan juga spontan dia menangis terisak-isak tetapi dari semua yang keluar dari racauan lelaki itu yang sering di dengar oleh warga sekitar atau orang yang kebetulan lewat di depan rumahnya adalah kata gunting. Entah apa maksud dari kata gunting yang diucapkan oleh lelaki tua aneh itu.

***
“Ayo percepat langkah kalian, jangan sampai si keparat gila itu kabur”
“Ayo kita bakar saja hidup-hidup”
“Ayo!!!”
“Mampus kau keparat”
“Pembawa sial”
            Rombongan penduduk sangat marah, mereka hanya mempunyai satu niatan yang sama yaitu membakar si keparat itu dan memusnahkan dia dari bumi ini. Tidak lama kemudian gerombolan penduduk itu sampai di rumah yang mereka tuju.
“Stop. Kita harus pastikan apakah si keparat itu ada di dalam rumah atau tidak sehingga kerja kita tidak sia-sia” perintah Barjo si komandan.
“Iye, bener pak Barjo. Ibaret kate peribahese pepateh, menyelem sambel kemasuken aer” timpal warga bernama Plentus itu penuh keyakinan, logatnya ala melayu-melayuan soalnya dulu dia pernah menjadi TKI di negeri Jiran. Mendengar apa yang keluar dari mulut pahlawan devisa itu seluruh warga tertawa terpingkal, terjungkal-jungkal sehingga suasana yang sedari tadi penuh ketegangan dan amarah kini berubah total berbalik arah. Seluruh warga tidak bisa menahan untuk tidak tertawa terkecuali Barjo yang tanduk amarahnya tetap menjulang tinggi di kepalanya.
“Sudah-sudah jangan tertawa nanti si keparat itu tahu kedatangan kita. Kamu juga si Plentus, sok-sokan pakai peribahasa segala. Salah tahu peribahasamu itu!”
Seluruh warga kembali diam dan mengunci mulutnya rapat-rapat, hanya Plentus yang masih memberi ruang di mulutnya, cengar-cengir malu tapi tetap tidak tahu dibagian mana yang salah dari peribahasa yang dia katakan.
“Ok, seluruh warga saya perintahkan untuk membagi kelompok dan mengintai dari dekat rumah si lelaki bertubuh kurus kering itu”
Barjo kembali memberikan perintah kepada seluruh warga dengan gaya ala komandan gerakan yang fenomenal menjadi sejarah suatu bangsa yang kini menjadi samar-samar kebenaran sejarah itu. Seluruh warga kemudian membagi kelompok mereka. Kebetulan mereka ada 25 orang. Mereka bagi menjadi empat kelompok yang masing-masing enam orang dan sisa satu. Sisa satu itu adalah si Plentus. Seluruh warga tidak ada yang mau menggabungkan ia di kelompoknya karena mereka takut ketika sedang serius mengintai, mereka akan dibuat tertawa terpingkal-pingkal karena olah si plentus. Plentus sadar bahwa tidak ada yang mau digabunginya tapi dia tetap bersikukuh untuk ikut andil dalam gerakan pembakaran si keparat itu. Dia pun tak ambil pusing ketika semuanya akan siap-siap mendekati rumah sasaran itu, si Plentus sudah maju duluan sambil menyuarakan slogan.
“Tegang terus pantang kendur!!!”
Kontan saja tanpa tawar menawar lagi, seluruh warga yang mendengar slogan Plentus langsung tertawa terpingkal-pingkal tak karuan sedangkan si Plentus tak peduli dia tetap maju. Lagian pula dia juga tidak sadar apa yang ditertawakan teman-temannya.

***
Lelaki kurus kering itu masih tetap seperti biasanya. Dia bicara sendiri dan kata-kata yang paling jelas keluar dari mulutnya adalah gunting. Dia tidak sadar kalau dia sedang di intai puluhan warga dan nyawanya terancam dibakar masa. Lelaki itu tetap asyik dengan dirinya. Terlihat lelaki itu berdiri di meja dan berlagak seperti Arya Dwipangga si penyair berdarah dalam cerita jawa itu. Mulutnya komat-kamit seperti sedang bersajak. Sinar matanya tajam menatap sekelilingnya. Tiba-tiba keluar kata dari mulutnya sangat jelas.
“Gunting!!!”
Kemudian lelaki itu turun mendekati tiang rumah yang terbuat dari kayu. Dia besujud dihadapan tiang rumah, gerakannya seperti sedang memberikan bunga merayu seorang wanita. Lagi-lagi diantara komat-kamit yang tak jelas, keluar kata gunting. Setelah itu dia menari-nari dengan sesekali menangis, tertawa, marah, diam dan terus berulang-ulang, tak lupa di sela-sela itu dia teriakkan kata gunting.

***
Para warga yang sedari tadi mengintai, tak segera membakar rumah lelaki itu bahkan si Barjo malah seakan terkesima dan menikmatai apa yang dipertunjukan oleh si lelaki kurus. Mereka semua seperti sedang menyaksikan sebuah pertunjukan yang mereka sendiri tidak pahami pertunjukan apa itu. Mungkin yang mereka pahami itu adalah pertunjukan baru di dunia seni. Selama mereka melihat pertunjukan seni, belum ada yang seperti dia lihat di hadapan mereka. Barjo sang komandan kemudian mengumpulkan kembali para warganya dan mengajak sedikit menjauh dari rumah lelaki kurus itu. Mereka membentuk formasi melingkar sepertinya mereka akan melaksanakan semacam diskusi darurat tapi si Barjo tidak akan mereshuffle pasukannya karena memang tidak ada pembagian jabatan dipasukan Barjo, kekuasaan dan kewenangan serta perintah sepenuhnya di tangan si Barjo.
“Baiklah saudara-saudara semua, setelah kita menyaksikan apa yang terjadi kira-kira langkah apa yang harus kita lakukan selanjutnya?” Barjo membuka diskusi dengan melempar pertanyaan kepada warga.
“Kaleu menuret saye…”
“Stop. Kamu tidak memiliki kewenangan untuk bicara duluan!!!” Barjo memotong pembicaraan si Plentos yang mencoba menyampaikan idenya.
“Semua boleh bicara duluan terkecuali si Plentus yang sok tahu itu”
Seluruh warga yang memiliki hak bicara duluan ternyata tidak ada yang berbicara. Mereka hanya terlihat kusak-kusuk seperti kebingungan tidak tahu mau bicara apa.
“Baik, saya perjelas permasalahannya lagi. Bukan maksud saya untuk membatalkan niat membakar dan memusnahkan si keparat sinting itu tapi menurut saya, tidak alasan kuat untuk memusnahkan dia dari muka bumi ini” Barjo coba memperjelas permasalahan dan sekaligus menjawab pertanyaan yang dia lontarkan sendiri.
“Itue namenye menjilet lideh buaye…” Plentus tiba-tiba mengetus begitu saja dan kontan seluruh warga yang tadinya diam kembali tertawa terbahak, terpingkal, terjungkal-jungka untuk kesekian kalinya dan tidak bisa dihentikan.
Akhirnya diskusi tersebut selesai dengan keputusan atas kesadaran masing-masing untuk membatalkan niat membakar rumah untuk memusnahkan lelaki kurus kering itu. Mereka pulang ke rumah mereka masing-masing masih dengan keadaan tertawa. Para istri dari warga yang ikut dalam gerombolan perencanaan itu dibuat bingung karena suami-suami mereka pulang dengan keadaan yang aneh. Suami mereka selalu tertawa tidak bisa dihentikan sampai adzan subuh dikumandangkan. Para suami mereka seperti kerasukan jin pelawak.

***
Keesokan harinya sekitar pukul delapan pagi, seluruh warga di bawah kekuasaan si Barjo digemparkan karena penemuan seorang mayat yang gantung diri di gapura perbatasan antara dua desa. Gapura itu terletak tak jauh dari rumah si lelaki kurus. Mayat gantung diri tersebut ditemukan oleh rombongan keluarga pengantin pria yang hendak menuju ke rumah pengantin wanita. Kebetulan rombongan tersebut memilih jalan yang melewati gapura perbatasan desa itu. Entah kenapa padahal sebenarnya ada jalan lain yang bisa dilewati rombongan pengantin pria itu untuk sampai ke rumah pengantin wanita tapi usut boleh usut ternyata salah seorang dari robongan itu berkata bahwa mereka memilih jalan tersebut karena sepi dan aman, mereka menghindari operasi cegatan polisi, soalnya sopir yang mengantarkan mereka adalah sopir tembak yang tidak punya biaya untuk membuat SIM. Ya tentulah ini sebuah keapesan bagi rombongan pengantin pria itu. Menghindari polisi tapi malah ketemu orang gantung diri. Untung Plentus tidak ada, kalau ada pasti kejadian itu akan diperibahasakan olehnya.
Seluruh warga yang gempar berbondong-bondong menuju ke gapura batas desa. Seperti kebiasaan warga, selau bergotong royong dan berbondong-bondong kemana saja dan untuk keperluan apa saja. Mereka mencoba mencari tahu mayat siapa yang menggantung di gapura itu. Setelah sampai di gapura seluruh warga belum bisa mengenalinya karena bagian wajah manusia yang gantung diri itu dibungkus dengan sak semen bekas.
“Siapa diantara kalian yang berani menurunkan mayat itu dan membuka sak semen yang menutupi kepalanya. Siapa tahu dia warga kita sehingga kita bisa menguburnya” lagi-lagi si Barjo dengan nada kencangnya menyuruh kepada warga.
“Kenapa gak sampeyan aja pak Barjo” celetuk warga yang juga hadir di sana.
“Lho, sayakan pemimpin di sini. Pemimpin itu harus di layani, bagaimana kalian ini!”
“Oooo….” Suara tanda paham seluruh warga  seperti paduan suara.
“Oya, mana si Plentus. Biarkan dia saja yang menurunkan mayat itu” Barjo menanyakan sekaligus memberi solusi kepada warga.
Ya seperti biasa karakternya memang begitu, bertanya sendiri dijawab sendiri dan selalu berusaha memberi solusi meski memberatkan orang lain.
“Oh, iya. Si Plentus saja yang menurunkan mayat itu” penyepakatan oleh salah seorang warga.
Mereka semua sibuk, pusing mencari keberadaan si Plentus bahkan lebih sibuk dan pusingnya melebihi para pejabat yang memikirkan projek apa lagi yang harus dimenangkannya. Seluruh warga sudah mengkerahkan semua usahanya mencari Plentus, tidak jua ditemukan. Di saat warga yang kebingungan mencari Plentus serta bingung bagaimana menurunkan mayat itu, dari rumah yang mereka cukup kenali yang letaknya di timur gapura terdengar suara teriakan.
“Gunting!!! Hahahaha….”
Suara berasal dari rumah lelaki kurus menggema di angkasa dan meluncur menusuk-nusuk telinga seluruh warga.
“O, ya… saya punya usulan cemerlang!” tiba-tiba si Barjo teriak dari arah barat gapura sehingga mengalihkan pandangan serta gerak kepala warga yang sedari tadi menengok ke timur gapura, kini ke barat gapura ke arah Barjo.
“Kita gunakan alat”
“Apa, apa…?” Tanya warga serempak.
Belum sempat Barjo menjawab, kembali dari arah timur gapura tepatnya dari rumah lelaki kurus itu  terdengar lagi suara teriakan.
“Ya… Gunting!!!”
Warga kembali menengok ke timur dengan serempak.
“Benar Gunting!!!” Barjo berteriak juga.
Warga serempak menengok ke arah barat.
“Gunting…” terdengar lagi teriakan dari arah rumah si lelaki kurus.
Warga kembali serempak menoleh ke Timur.
“Gunting!!!” Barjo kembali berteriak tak kalah kencangnya dengan terikan lelaki kurus itu.
Warga menoleh ke barat. Barjo dan lelaki kurus itu saling sahut-sahutan. Berteriak. Seluruh warga seperti entung menoleh ke kanan ke kiri. Ya, memang begitulah seluruh warga yang statusnya tak punya status, memiliki kemampuan yang istimewa yaitu plenggang-plenggang, toleh kanan toleh kiri pasrah tanpa tuntutan.
“Ya, Gunting!!!” kali ini barjo berteriak sangat keras sekali dan sepertinya teriakannya
itu membuat gentar suara yang berasal dari rumah si lelaki kurus kering. Tidak ada lagi sahutan.
Barjo segera memerintahkan warganya duduk secara rapi untuk mendengarkan pidato, solusi dari permasalahan menurunkan mayat yang gantung diri di gapura. Seperti biasanya pula tanpa dikomando, beberapa warga segera menyiapkan podium tempat Barjo berpidato dan tak lupa seorang gadis siap siaga di belakang Barjo sambil membawa kipas yang terbuat dari anyaman rumput ilalang siap menyejukan tubuh Barjo yang kepanasan karena sedang menjalankan tugas mulia yaitu berpidato. Barjo siap berpidato seluruh warga juga telah siap mendengarkan dengan seksama. Barjo menaiki podium yang sudah di sediakan. Perempuan yang membawa kipas sudah mulai mengayunkan kipasnya sejak tiga menit yang lalu dengan tujuan agar lalat dan nyamuk yang nangkring di podium kabur sehingga tak menyakiti si Barjo, pemimpin mereka.
“Saudara-saudara yang saya hormati dan saya muliakan dan juga saya cintai dan juga saya sayangi dan juga saya lindungi. Kita semua saat ini sedang mengalami suatu bencana yang sangat mengacaukan pikiran kita serta menyita waktu kita sehingga kita tidak dapat memiliki celah ruang untuk bertamasya atau setidaknya menghibur diri dengan mandi-mandi di laut atau berselancar bersama keluarga di gunung Hilayama” “Maaf tuan, Himalaya…” bisik perempuan yang sedari tadi berdiri mengipasi Barjo tanpa pamrih.
“Oya, maaf. Sebagai makhluk biasa tentunya kita, terutama saya tidak lepas dari kesalahan. Maksud saya Himalaya” Barjo mencoba mengkoreksi atas salah sebutnya terhadap suatu tempat tersebut.
Sebenarnya walau si Barjo tidak membenarkan atas kesalahan sebutnya, para warga tidak ada yang tahu tempat seperti apa itu atau bahkan baru kali ini mereka mendengarnya. Barangkali saja yang tahu tempat itu hanya Barjo dan perempuan si pengipas.
“Saudara-saudara semuanya, singkat kata saya akan memberi solusi yang sangat cemerlang guna menyelesaikan permasalahan yang pelik ini yaitu permasalahan bagaimana caranya untuk menurunkan mayat yang sedang menggantung di gapura batas desa. Solusinya adalah saya perintahkan kepada kalian semua untuk mengambil gunting besar, gunting rumput bukan gunting rambut. Gunting itu kemudian akan kita kreasikan sehingga tercipta karya maha super dahsyat, penemuan technologi yang fenomenal di negeri kita ini. Gunting besar itu di kedua gagang pegangannya akan kita sambung dengan batang kayu yang panjang dan kemudian setelah alat technologi penemuan kita itu jadi, kita bisa menggunting tali yang buat gantung diri makhluk itu dari bawah. Kita tidak perlu susah-susah naik gapura dan kita juga tetap steril dari darah yang kemungkinan keluar dari mulut dan telinga si penggantung diri itu. Bagaimana apa kalian mengerti?” seluruh warga mengangguk dengan serempak tanda paham akan solusi yang di pidatokan pemimpin mereka si Barjo.
“Baiklah, jika anda semua mengerti, lanjutkan!”
Seluruh warga segera melanjutkan perintah Barjo.
Warga yang merasa memiliki gunting besar, mereka kumpulkan dan diadakan seleksi pemilihan gunting siapa yang paling terbesar selanjutnya akan diciptakan alat teknologi yang super canggih. Alat penurun mayat gantung diri. Bagi pemilik gunting terbesar yang terpilih, namanya  akan masuk dalam buku world record.
Akhirnya alat tersebut selesai diciptakan. Semua terlihat gembira dan berbondong-bondong pula menurunkan mayat gantung diri tersebut. Mayat itu dapat di turunkan. Kemudian sak semen yang membungkus kepala mayat juga digunting dengan alat yang sama sehingga terlihatlah dengan jelas wajah mayat siapa itu. Seluruh warga terkejut, ternyata mayat yang menggantungkan diri itu adalah sosok yang sangat mereka kenali. Ternyata mayat itu adalah lelaki kurus yang selama ini disebut mereka sebagai si keparat pembawa sial. Mereka semua heran, lalu suara siapa yang mereka dengar tadi dari rumah si lelaki kurus itu. Mereka semua ketakutan, sebagian warga lari pontang-panting untuk sembunyi di rumah masing-masing begitu juga gerombolan penganti pria yang sedari tadi belum pergi, mereka ikutan segera kabur. Mereka mencari jalan yang lebih cepat yaitu jalan raya. Mereka kini tak perduli kalau nanti di jalan akan terkena cegatan polisi, andai saja nanti ketangkap anggap saja mereka sedang kena sial saja, polisi adalah kesialan selanjutnya bagi mereka hari ini.  Warga yang sebagaian tidak kabur sepertinya bukan karena dia tidak takut tetapi seluruh persendian mereka terasa lemas sehingga tidak bisa beranjak kemana-mana termasuk Barjo dan perempuan si pengipas.

***
            Tiga hari berselang dari peristiwa itu atas perintah si Barjo sang pemimpin, menyarankan  warganya supaya merahasiakan peristiwa yang pernah terjadi di kampungnya, termasuk mereka dilarang lagi menyungging atau bahkan sedikit saja mendesiskan kata gunting diantara mereka. Barjo juga memerintahkan agar alat teknologi penurun mayat yang super canggih ditarik dan dihapuskan hak patentnya atas cipta karya dari warga desa yang di pimpinnya. Seluruh warga yang di rumahnya memiliki gunting sebagai alat bekerja, supaya di buang dan di gantikan dengan alat lain. Apabila mereka hendak memotong rambut disarankan untuk menggunakan pisau dapur dan bagi mereka yang hendak memotong rumput mereka dapat menggantikannya dengan arit dan bila mereka hendak memaku kayu tentu mereka tidak perlu menggantikannya, mereka tetap boleh menggunakan palu karena selama ini mereka memang menggunakan palu untuk memaku bukan gunting. Ya, begitulah keadaan desa itu kini. tampak sunyi dan tentram tetapi sesungguhnya seluruh warga menyimpan ketakutan yang amat sangat di diri mereka masing-masing. Mereka harus benar-benar membatasi ucapannya, diperkenankan untuk menghancurkan sejarah atas penemuan yang pernah mereka temukan dengan alasan agar tidak terkuak masa lalu atau sejarah yang kelam dan dapat membahayakan stabilitas kehidupan warga. Demikianlah desa yang dipimpin oleh Barjo menjadi desa yang sangat anyep – nyep – nyep. Sepo.

The end…

Hehe, ya begitulah cerita saya yang berjudul Gunting. Semoga berkenan dan tidak membawa dampak apa-apa selain anda muak dan malas membacanya. Hihihi… (saya tentu mengeluarkan senjata klise karena saya tahu pasti anda bosan membacanya. Ceritanya kurang menarik, ceritanya nggak gue banget gitoch dweh… hahahahahahaaaa).
Oke, pokoknya terima kasih atas segala apa yang dirasakan, semoga saya bisa selalu mendapat dampak positif dari semua ini. Setidaknya yang terpenting saya terus bisa membangkitkan selera menulis saya. Menjadikan menulis adalah pekerjaan tetap saya dan semoga jika saya melakukan pekerjaan ini dengan sungguh-sungguh adalah jihad saya untuk beribadah. (sebenarnya ada satu hal lagi kenapa saya ingin membangkitkan selera saya menulis dan menjadikan ini sebagai pekerjaan, ini adalah sebagian wujud pengabdian dan balas budi atas jerih payah terhadap seseorang yang telah mencurahkan tenaga, pikir, materi, kasih sayang serta segalanya untuk mendukung saya menyelesaikan studi dan menjadikan saya seorang Sarjana Sastra).
Tentu, benar… saya sadar, sesadar-sadarnya bahwa tulisan saya ini belum mencerminkan saya adalah seorang Sarjana Sastra. Memiliki kemampuan menulis selayaknya Sarjana Sastra. Namun demikian, untukmu yang mencurahkan segalanya padaku, semoga segala bentuk karya ananda ini dapat sedikitnya menjadi penghibur atau apalah yang insya Allah bisa membuat kalian bahagia. Amin.

Tanggal 2 Januari 2012.
Pukul 12.02 AM.       

Wow, tak terasa sudah masuk hari ke dua di tahun yang banyak orang meramalkan sebagai tahun yang mengerikan. Hahahahaaaa, kalian percaya nggak? Ya, kalau aku… ehm… rahasia donk… wkwkwkwkw.
Ok, sip mari kita percaya pada Tuhan saja. Serahkan pada-Nya atas apa yang akan terjadi. Tugas kita adalah mempersiapkan menghadapinya. Ayo optimis, Tuhan Maha Pemaaf pokoknya… sip deh… hah udahlah malah salah ngomong ntar…
Oraet, ini udah malam aku juga mau istirahat tapi sebelum itu aku mau ke kandang dulu. Biasalah… ngasih makan kambing… hehehehe… (Hidup Sarjana Sastra. Di segala tempat kau pasti bisa segera menyatu. Satukan diri satukan dengan kondisi satukan dengan alam satukan dengan segalanya dan jangan lupa tetap teguhkan untuk tetap berkarya!!!) uye… asyik ya, Allah….

C U………………. (not ciu!!!)  : )

0 komentar:

Posting Komentar

 

Geliat Jiwa Copyright © 2010 | Designed by: Compartidisimo