Tanggal 27 desember 2011.
Pukul 16.18 PM.
Tanggal 27 desember 2011, lewat sehari dari hari kelahiranku. Tidak ada yang istimewa dari yang lalu dalam kehidupanku terkecuali bertambahnya satu hari usiaku. Aku masih terus berusaha untuk merapat pada puing-puing kapalku yang sempat hancur karena kelengahanku. Perahu yang selalu ada dalam jiwaku yang sempat aku bangun selama belasan tahun seakan karam karena ego. Kini, setelah semua menjadi puing-puing, aku memungutinya secuil demi secuil dan kucoba untuk mencipta perahu itu lagi. Memang sepertinya tak akan sekokoh seperti perahuku yang dulu namun tak apalah jika ini mampu kubentuk kembali setidaknya aku punya sesuatu untuk kukendarai kala air bah meluap dan aku dapat menyelematkan diri untuk tak karam.
Sore masih terus beranjak perlahan namun pasti. Seperti sesuatu yang ada di dalam luar sadarku, menjadi style hidupku, slow-slow-slow. Ngeslow saja beb, karena aku pernah terjatuh oleh kecepatan tinggi dari sikap. Slow style yang tak kuada-ada ini sebenarnya juga tidak memberikan dampak yang terlalu baik daripada kecepatan itu. Aku sering mendapat kritikan dari seseorang yang sangat punya kesempatan dan kekuatan untuk menghidupkan hidupku menjadi luar biasa atau sebaliknya menjadikan hancur lebur selebur-leburnya. Ya, memang ketika dia melontarkan kata-kata itu, aku sering berekspresi seperti tidak ada pengaruh apa-apa padaku tapi sesungguhnya akupun tanpa mengada-ada, aku adalah seseorang yang sangat menyimpan sesuatu hal yang bersinggungan dengah kehidupanku. Aku sangat perasa dan menyimpan sesuatu begitu dalam sangat dalam di dalam lobang hatiku.
Sebatang rokok menyelip di antara jari tengah dan manisku, menemani senja yang terus mengalir. Asap mengepul bersama desahan nafasku yang serasa makin memiliki makna. Makna apa itu aku sesungguhnya juga tidak mengerti. Hembusan keresahan atas mimpi yang seperti apa aku juga tidak paham sekali karena mimpi yang ada, menurutku tak dapat tegesa-gesa dan seenaknya aku utarakan pada siapapun. Hanya hati dan hatiku yang kupersilahkan untuk berdiskusi bersama putaran waktu. Sesekali otakku mencoba menterjemahkan diskusi hati itu. Dia menjabarkan bahwa mimpi itu sama sekali tidak bermakna atau bahkan maknanya terlalu begitu besar sehinga mampu menjadi bomerang bagi kelangsungan nyawaku. Menyerang balik atas kehidupanku. Ya, walalu mimpiku tak menghujat siapapun terkecuali menghujat atas diriku sendiri atas perilaku dan jalan kehidupan yang meretas di alir nadi ini. Mimpi itu masih berbayang dalam jiwaku.
Punah sudah rokokku, tersungkur bersama abu di asbak beling yang coreng moreng. Semuanya menjadi dingin, hampa Juga tubuhku yang mulai merindukan gerakan-gerakan, membutuhkan keringat berlimpah, sehingga mungkin saja aku masih dapat menjalankan sendi-sendi tulang untuk lebih lama dan aku masih dapat merayapi makna atas mimpi-mimpi itu. Sore beranjak, aku memutuskan untuk meninggalkan kamarku menyemai tawa. Aku hanya ingin berusaha untuk menjadi sehat atas tubuh ini dan biarkan pikirku berkelana. Kutebar pikir di mana saja tempat agar berpetualang dia dalam pengembaraan yang Esa…
Continued…



0 komentar:
Posting Komentar