Ray Mengku Sutentra
sembunyi sungguhlah tak baik, juga tak lazim
dalam gelap itu dia lebih mampu mengenal dirinya
dari pada berhadapan dengan cermin yang terang
membaca katamu
aku juga diam
entah apa itu
jangan bertanya padanya
karena masih banyak yang belum mampu ia jawab
pada kehidupan malam dia kembali pasrah
akan realita kehidupan
kemana dia akan pulang malam ini
langit kosong
diam
menggebu
gelisah
di mana, kapan, kau, dia, aku,
pulang?
Yogyakarta, Mei 2011



0 komentar:
Posting Komentar